Ulasan Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer

MEMBONGKAR KETIDAKADILAN KEKUASAAN PRIYAYI

DALAM MASYARAKAT TRADISIONAL JAWA

(Ulasan terhadap novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer)

/1/

Sastra merupakan cermin masyarakat. Keberadaan karya sastra memang tidak lepas dari masyarakat dan kenyataan sosial di sekelilingnya. Karya sastra dapat hadir sebagai refleksi dari realitas sosial dan refleksi kesejarahan yang terjadi di masyarakat. Memang, sastra sebagai refleksi dari kenyataan masyarakat rasanya sulit diingkari kebenarannya, sebab seorang sastrawan tidak mungkin hidup terasing dari masyarakatnya, sehingga ia tidak buta dan tuli terhadap segala peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Goldmann bahwa karya sastra diciptakan oleh pengarang sebagai hasil dari sebuah proses merespons situasi lingkungan dan sosialnya (dalam Teeuw, 1984: 103). Oleh karena itu, karya sastra yang besar akan mampu mengidentifikasikan kecenderungan-kecenderungan sosial yang penting pada zamannya sehingga bisa mencapai ekspresi yang padu dengan realita.

Meski karya sastra menampilkan realita sosial, karya sastra tidak lahir begitu saja. Karya sastra lahir dari hasil kreativitas, pergulatan antara realitas dan imajinasi pengarang. Dengan imajinasinya pengarang ingin mewujudkan kembali sederetan pengalaman-pengalaman tertentu yang pernah akrab dengan lingkungan dan kehidupannya. Adanya karya sastra yang berangkat dari realitas, paling tidak bisa memberikan penceritaan kepada masyarakat tentang sesuatu yang pernah terjadi pada masa tertentu.

Salah seorang pengarang yang mahir memadukan realitas dengan imajinasinya menjadi sebuah karya sastra adalah Pramoedya Ananta Toer. Kebesaran nama Pramoedya tak diragukan lagi, meski polemik dan kontroversi selalu mengikutinya hingga akhir hayat. Dari tangannya telah lahir karya-karya besar yang mendapat sambutan yang luar biasa hingga  ke mancanegara. Pramoedya telah menulis 53 buku yang beberapa di antaranya telah diterjemahkan ke dalam 41 bahasa dunia, bahkan ada yang telah menjadi bacaan wajib siswa di negara tetangga. Pramoedya juga merupakan satu-satunya sastrawan Indonesia yang berkali-kali dicalonkan untuk mendapat hadiah Nobel.

Sekalipun fiktif dan imajinatif, kisah dan tokoh-tokoh Pramoedya selalu berkait dan diangkat dari kenyataan dan pengalaman sejarah sosial budaya manusia-manusia Indonesia. Bila dicermati, hampir semua karya Pramoedya memang mempunyai latar kenyataan yang cukup mantap: pertama-tama kenyataan hidupnya sendiri lahir dan batin, kenyataan orang di sekitarnya, kenyataan masyarakat Indonesia sezaman, dan juga kenyataan sejarah. Dalam tulisan ini akan coba diulas salah satu karya Pramoedya yang berhasil memadukan realitas dan imajinasi pengarangnya, yaitu roman Gadis Pantai. Roman yang ditulis tahun 1962 ini mencoba mengangkat realitas kehidupan masyarakat pada awal abad ke-20, khususnya peradaban tradisional Jawa yang masih mengenal sistem pelapisan sosial pada masyarakatnya.

Baca lebih lanjut

Iklan