Ulasan Singkat Puisi Derai-derai Cemara

Chairil Anwar merupakan salah satu penyair besar Indonesia. Keberaniannya menciptakan pembaharuan dalam perpuisian di Indonesia membuatnya senantiasa dikenang. Karya-karyanya pun banyak dibicarakan. Tulisan ini pun berupaya mengupas salah satu puisinya – Derai-derai Cemara – yang kebetulan sering keluar sebagai soal Ujian Nasional. Dengan ulasan sederhana ini diharapkan peserta didik menjadi lebih mudah untuk memahami isi dan makna puisi tersebut.

 Derai-derai Cemara
 Karya Chairil Anwar
 Cemara menderai sampai jauh
 Terasa hari akan jadi malam
 Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
 Dipukul angin yang terpendam
 Aku sekarang orangnya bisa tahan
 Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
 Tapi dulu memang ada suatu bahan
 Yang bukan dasar perhitungan kini
 Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
 Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
 Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
 Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari daun-daun cemara yang berguguran yang merupakan metafor tentang runtuhnya harapan si aku lirik.

Bait pertama, pohon cemara menggambarkan tentang sesuatu yang lemah, ringkih, sesuai dengan bentuk daun cemara yang kecil, meruncing mudah terhempas oleh angin yang bertiup. Sementara itu, malam identik dengan kesunyian, kegelapan, waktu istirahat dan akhir dari sebuah hari atau perjalanan. Si aku lirik merasakan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Tidak hanya daun-daunnya yang luruh, bahkan dahan-dahannya juga mulai merapuh karena sering dipukul angin. Larik ini dapat dimaknai bahwa kondisi si aku sudah semakin rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup. Angin memberikan gambaran tentang segala cobaan dan kepahitan dalam hidup, yang menghempas kehidupan si aku lirik sehingga membuatnya kian rapuh.

Secara singkat bait pertama dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik akan kondisinya yang kian rapuh diterpa oleh berbagai cobaan hidup (termasuk kesehatan). Si aku lirik pun merasakan perjalanan hidup dirinya sudah mendekati maut, akan berakhir.

Bait ke dua menggambarkan kedewasaan si aku lirik, yang digambarkan dari kalimat sudah berapa waktu si aku lirik bukan kanak lagi. Kedewasaan si aku lirik ditandai oleh kemampuannya menghadapi berbagai cobaan hidup (larik aku sekarang orangnya bisa tahan). Sesuatu yang pernah dicita-citakan dulu sepertinya tidak bisa lagi dipertahankan kini, sebab sudah tidak relevan dan kondisinya pun sudah tidak memungkinkan. Pandangan aku lirik terhadap hidup saat kanak-kanak berbeda dengan pandangannya saat kini sudah dewasa.

Secara singkat bait ke dua dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa dirinya sekarang sudah bukan kanak-kanak lagi (sudah dewasa) sehingga harus dapat memandang kehidupan dengan cara dewasa, termasuk dapat bertahan menghadapi berbagai cobaan hidup.

Bait ke tiga , si aku lirik menyadari bahwa hidup manusia pasti akan berakhir atau mati. Hidup manusia hanya menunggu mati. Kematian merupakan bentuk kekalahan manusia. Manusia tak bisa mengelak karena kematian merupakan ketentuan yang harus diterimanya dari Sang Maha Hidup. Cita-cita si aku lirik pada masa lampaunya yang begitu cemerlang namun si aku lirik selalu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Nampak dari kata terasing yang digunakan yang menceritakan tentang rencana si tokoh tentang cita-citanya namun berbeda dengan apa yang diharapkan sehingga membawa dia ke dunia yang dianggap asing dan pada akhirnya berujung pada kepasrahan, menyerah pada kematian.

Secara singkat bait ke tiga dapat dimaknai sebagai kesadaran si aku lirik bahwa hidup manusia pada akhirnya akan menyerah pada kematian.

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan, puisi Derai-derai Cemara merupakan ungkapan tentang perjalanan si aku lirik yang hidupnya penuh didera cobaan, dia sempat mempunyai cita-cita yang cemerlang pada masa kecilnya namun pada kenyataannya hidupnya mengalami kepahitan dan penderitaan, sehingga membawa pada sebuah keterasingan dan menyadarkan tentang kehidupannya di dunia ini pasti akan berakhir dengan mati.

Iklan

Nyanyian Akar Rumput: Suara Kaum Marginal

9786020302898

Judul Nyanyian Akar Rumput
Pengarang Wiji Thukul
Penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit 2014
Halaman 248

 Wiji Thukul merupakan salah satu penyair Indonesia yang berhasil mencatatkan namanya di jagad perpuisian Indonesia. Puisi-puisinya banyak menyuarakan penderitaan masyarakat akar rumput (kaum marginal, kelas bawah). Suara akar rumput inilah yang selalu menjadi tema utama dalam puisi-puisinya yang ditulis sekitar tahun 1980-an hingga menjelang reformasi tahun 1998. Bahkan berbagai kritik tajam yang dituangkan dalam puisi-puisinya sempat membuat gerah rezim penguasa saat itu. Hal ini pula yang diduga menjadi penyebab hilangnya Wiji Thukul yang sampai sekarang tidak diketahui kabar dan keberadaannya.

Wiji Thukul lahir di kampung Sorogenen, Solo pada 26 Agustus 1963. Lahir dari keluarga tukang becak, Wiji drop out dari sekolahnya di Sekolah Menengah Karawitan untuk kemudian menjadi buruh pelitur mebel. Menulis puisi sejak SD, bakatnya tertempa ketika ikut teater sejak SMP. Puisi-puisinya telah diterbitkan dalam sejumlah buku kumpulan puisi. Di antaranya ada Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda 1994) dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000).Namun, di luar itu sebenarnya masih banyak lagi karya Wiji Thukul yang tersebar di berbagai selebaran, majalah, koran mahasiswa, jurnal buruh dan media lainnya.

Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul merupakan buku kumpulan lengkap puisi Wiji Thukul, baik yang pernah diterbitkan dalam bentuk buku, maupun yang tersebar di berbagai media. Buku kumpulan lengkap puisi yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Maret 2014 ini menjadi salah satu buku yang berupaya mengumpulkan semua. Total ada 171 puisi yang dibagi dalam 7 bab. Yakni, bab (1) Lingkungan Kita si Mulut Besar, (2) Ketika Rakyat Pergi, (3) Darman dan Lain-lain, (4) Puisi Pelo, (5) Baju Loak Sobek Pundaknya, (6) Yang Tersisih, dan (7) Para Jendral Marah-marah. Judul buku, “Nyanyian Akar Rumput” diambil dari salah satu puisi yang diambil dari bab pertama, hal 25. Berikut petikannya.

jalan raya dilebarkan/ kami terusir/ mendirikan kampung/ digusur/ kami pindah-pindah/ menempel di tembok-tembok / dicabut/ terbuang/ kami rumput/ butuh tanah/ dengar!/ ayo gabung ke kami/ biar jadi mimpi buruk presiden! / juli 88

Puisi-puisi dalam kumpulan ini kental bicara tentang kemiskinan, ketertindasan, keterpinggiran yang dialami oleh kaum marginal (masyarakat kelas bawah). Puisi-puisi tersebut masih relevan hingga kini. Kata-kata dan bahasanya sangat keras, tegas, dan jauh dari basa-basi, romantisme, dan kata-kata yang berbunga-bunga. Tak perlu mengerutkan kening untuk memahami puisi-puisi Wiji Thukul, semua begitu gamblang diekspresikan oleh penyair. Berbagai hal yang dekat dengan masyarakat bawah banyak ditampilkan dalam buku puisi ini, misalnya gudang, pabrik, perkampungan kumuh, air comberan, sambal bawang, dan masih sebagainya. Puisi-puisi Wiji Thukul dalam kumpulan puisi ini menyuarakan penderitaan, tetapi tidak dengan cara yang cengeng dan rapuh.

Nyanyian akar rumput menjadi pengingat sekaligus potret buram perjalanan negeri ini. Di saat para pejabat menikmati kekuasaan mereka, selalu ada rakyat kecil yang terjepit dan menjerit. Nasib rakyat menjadi permainan kekuasaan. Selarik puisinya yang berjudul ”perlawanan” menjadi jargon yang sangat terkenal dalam perjuangan melawan penindasan dan kesewenang-wenangan rezim penguasa: Hanya satu kata, lawan!

Menikmati dan Memahami Puisi

puisi-bektipatriaHarus diakui bahwa sebagian besar orang tampaknya tidak suka dengan makhluk yang namanya puisi. Hal ini terlihat dari keberadaan buku-buku puisi di rak-rak toko buku hampir tak tersentuh oleh para pembeli. Hadirnya rubrik puisi yang cukup banyak terserak di berbagai media massa – koran – di  tiap hari Minggu, juga sesungguhnya belum bisa menandakan bahwa para pembaca suka pada puisi. Bahkan, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, yang suka puisi pun bisa dihitung dengan jari. Kenapa demikian?

Ada banyak sebab yang membuat orang kurang suka pada puisi. Salah satu sebab utama adalah soal apresiasi. Sejak lama diakui, bahwa apresiasi masyarakat kita terhadap karya sastra – terutama puisi – masih sangat rendah. Hal ini disebabkan antara lain karena budaya baca-tulis dalam masyarakat kita memang masih tergolong rendah. Nah, apalagi ketika berhadapan dengan puisi, yang wujudnya hampir selalu memakai bahasa yang tak biasa. Bahasa yang aneh dan kadang terasa asing. Dibanding dengan jenis sastra lain, seperti cerpen dan novel, puisi memang memiliki kekhasan. Cerpen dan novel juga lebih gampang dicerna daripada puisi. Bahasa puisi yang tidak biasa menjadikan puisi sulit dipahami.

Soal apresiasi sebenarnya adalah soal bagaimana memahami dan menikmati. Untuk puisi, tidak selamanya sesuatu yang tak bisa dipahami, tak bisa pula dinikmati. Banyak yang bilang, “ah, saya tak paham puisi ini.” Atau bilang begini, “Aduh, apa sih artinya puisi ini?” Sehingga, karena tak kunjung dapat dipahami, maka puisi itu pun tak jadi dibaca. Sekadar contoh, puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, “aku ingin” atau “hujan bulan juni”, yang memiliki metafor yang sangat kuat, pilihan katanya sangat indah, hingg terkadang sulit dipahami. Namun, membaca puisi-puisi tersebut ternyata mampu mengantar pada kenikmatan yang luar biasa.

Menikmati puisi layaknya menikmati sebuah hidangan. Bedanya, makanan untuk asupan raga, sedangkan puisi untuk jiwa. Tingkat kenikmatan yang dirasakan ketika membaca puisi dipengaruhi oleh seperti apa puisi itu dihidangkan, dan bagaimana menikmati hidangan puisi tersebut. Sebenarnya setiap puisi sudah memiliki makna sejak puisi itu dilahirkan oleh penulisnya. Kemudian saat puisi itu dilemparkan kepada pembaca, maknanya mungkin saja akan berbeda atau bahkan menyimpang dari makna yang disetujui oleh penulisnya. Hal ini tentunya merupakan sesuatu hal yang wajar dan masuk akal, karena pemaknaan puisi tidak memiliki keterikatan. Artinya, puisi bebas untuk diartikan seperti apa, tergantung pembaca mengartikannya seperti apa, sesuai dengan suasana hatinya. Perlu juga diketahui bahwa saat puisi itu sudah dilemparkan kepada pembaca, puisi tersebut tidak lagi hanya milik penulisnya, namun juga sudah menjadi milik pembaca.

Ya, sesungguhnya puisi diciptakan pengarang pertama-tama memang untuk dinikmati. Menikmati, tanpa harus paham betul makna dan maksudnya. Ini bukan berarti menggampangkan isi makna yang terkandung dari sebuah puisi. Tapi lebih kepada bagaimana caranya pembaca bisa masuk dengan mudah ke dalam puisi itu sendiri dan leluasa untuk menikmati berbagai “permainan” yang disuguhkan. Misalnya, dalam puisi ada bunyi. Biasanya kerap disebut sebagai rima dan juga ritme. Sehingga, kerap pula puisi dapat dinyanyikan, yang kemudian dikenal dengan istilah “musikalisasi puisi.” Puisi bisa juga dijadikan syair lagu. Sebagai contoh, lagu-lagu Bimbo sebagian besar adalah puisi ciptaan Taufik Ismail. Bait-baitnya adalah puisi. Demikian juga pada lagu-lagu Ebiet G Ade, Iwan Fals, atau yang lebih baru lagu-lagu Kla Poject dan Letto. Banyak sekali lagu-lagu popular yang liriknya terdengar sangat puitis. Ini menunjukkan bahwa dalam lagu-lagu itu ada puisi yang dapat dinikmati.

Memang, dalam jagad perpuisian, ada pula puisi-puisi yang “sulit” dicerna, seperti puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri atau Afrizal Malna misalnya? Untuk dapat memahaminya, awalilah dengan menikmati puisi sebagaimana menikmati musik, menikmati suara burung, suara air terjun, suara ocehan dan tangisan bayi, dan berbagai suara di sekitar yang terkadang tak semuanya dapat dipahami maksudnya. Namun, bila sering dan intens mendengar suara-suara tersebut, akhirnya akan hadir pemahaman dengan sendirinya. Misalnya bahwa suara tangisan bayi adalah ekspresi kesedihannya. Atau mungkin karena lapar atau merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada dirinya. Suara kicau burung, apakah bisa dinikmati? Sementara ia tak mengucapkan dengan verbal lewat kata-kata. Atau, sesekali nikmatilah puisi, sebagaimana ketika menikmati gemericik air sungai di tepi sawah, matahari tenggelam pada sebuah senja yang temaram, yang tentu akan aduhai merasuk ke dalam jiwa.

Ketika sudah mulai dirasuki oleh kenikmatan yang luar biasa dari sebuah puisi, maka sesungguhnya secara perlahan akan mengantar pada pemahaman. Terkadang secara tidak sengaja puisi tersebut mulai dicoba untuk dberi arti atau ditafsirkan berdasarkan kenikmatan yang berhasil dirasakan. Maka di sinilah “pemahaman” terhadap puisi sedang bekerja. Ada berbagai suasana hati akan muncul: sendu, sedih, bahagia, rindu, haru, sunyi, mimpi-mimpi, ada pula harapan-harapan, dan sebagainya.

Dengan demikian, puisi memang bukan cuma untuk dipahami, tanpa harus berusaha menikmatinya. Justru dengan menikmatinya, dengan sendirinya akan mengantar kepada pemahaman. Jika hanya paham isi puisi, tapi tak mau menikmati bagaimana jiwa puisi itu, tentu kurang imbang. Bahkan akan sulit untuk menemukan daya sentuh dan daya gugah dari puisi tersebut. Untuk itu, jangan terlalu cepat menganggap sebuah puisi itu “terlampau serius” hanya gara-gara ia sulit dipahami bahasanya. Kalau pun memang sulit, puisi tetaplah bisa untuk dinikmati. Salam.#

Tahun Baru dalam Puisi Gus Mus

gusmus1Hari ini, 5 November 2013, umat muslim memasuki Tahun Baru (1 Muharram) 1435 Hijriyah. Tahun Baru merupakan saat yang tepat digunakan untuk introspeksi, merenung, melihat pada diri atas apa yang sudah dilakukan selama ini. Berkaitan dengan tahun baru, ada sebuah puisi yang menarik untuk diapresiasi sekaligus mengajak pembaca untuk memaknai peristiwa pergantian tahun itu secara benar. Sebagaimana karya sastra pada umumnya, puisi ini dicipta bukan tanpa tujuan. Melalui puisi ini pengarang ingin menyampaikan ”sesuatu” kepada pembaca sebagai bahan renungan, khususnya bertepatan dengan moment pergantian tahun ini.

Adalah Gus Mus yang memiliki nama asli KH.A. Mustofa Bisri, selain dikenal sebagai penyair dan budayawan, sesungguhnya adalah seorang kyai (pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah). Kemunculan beliau dalam blantika sastra Indonesia memberikan angin segar, tidak saja bagi puisi Indonesia melainkan juga bagi masyarakat Indonesia secara umum. Betapa tidak. Puisi-puisinya adalah suara kritis dari pedalaman pesantren, terdengar nyaring, keras, religius, namun juga jenaka.

Sebagai seorang ulama sekaligus seorang penyair, Gus Mus memandang dunia dengan mata batin seorang ulama sekaligus mata batin seorang penyair. Sebagai seorang ulama, Gus Mus memandang dunia dari sudut-pandang agama; pandangan-dunianya merefleksikan kesadaran religiusnya. Sementara, sebagai seorang penyair, Gus Mus memandang dunia dari intuisi kepenyairannya; pandangan-dunianya merefleksikan bangunan intuitifnya.

Pandangan dunia Gus Mus antara lain terlihat pada salah satu puisinya yang berjudul “Selamat Tahun Baru, Kawan”. Sebuah puisi karya Gus Mus mengajak pembaca untuk melihat diri dan introspeksi.

Selamat Tahun Baru Kawan
Oleh K.H. Mustofa Bisri

Kawan, sudah tahun baru lagi
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk?
Memandang diri sendiri?
Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisab-Nya?

Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?
Musliminkah?
Mukminin?
Muttaqin?
Khalifah Allah?
Umat Muhammad-kah kita?
Khaira ummatin kah kita?
Atau kita sama saja dengan makhluk lain?
Atau bahkan lebih rendah lagi?
Hanya budak-budak perut dan kelamin.

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan
Lebih pipih dari kain rok perempuan.
Betapapun tersiksa, kita khusyuk di depan massa
dan tiba-tiba buas dan binal justru di saat sendiri bersama-Nya.
Syahadat kita rasanya seperti perut bedug, atau pernyataan setia pegawai rendahan,
kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam Ibu-ibu
Lebih cepat daripada menghirup kopi panas
Dan lebih ramai daripada lamunan seribu anak muda.
Doa kita sesudahnya justru lebih serius kita
Memohon hidup enak di dunia dan bahagia di surga.
Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan minum dan saat istirahat
Tanpa menggeser acara buat syahwat.
Ketika datang lapar atau haus; kitapun manggut-manggut,
“Oh beginikah rasanya.”
Dan kita sudah merasa  memikirkan saudara-saudara kita yang melarat.
Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilannya
untuk kupon undian yang sia-sia.
Kalaupun terkeluarkan harapanpun tanpa ukuran, upaya-upaya Tuhan menggantinya berlipat ganda.
Haji kita tak ubahnya tamasya  menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material.
Membuang uang kecil dan dosa besar, lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi. Haji.

Kawan, lalu bagaimana, bilamana dan berapa lama kita Bersama-Nya?
Atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya
Mensiasati dunia sebagai khalifah-Nya.

Kawan, tak terasa kita semakin pintar
Mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita,
paling tidak kita semakin pintar berdalih.
Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan
Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran
Melacur dan menipu demi keselamatan
Memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan
Memukul dan mencaci demi pendidikan
Berbuat semuanya demi kemerdekaan
Tidak berbuat apa-apa demi ketentraman
Membiarkan kemungkaran demi kedamaian
Pendek kata, demi semua yang baik, halallah semua sampaipun yang paling tidak baik

Lalu bagaimana para cendikiawan dan seniman?
Para mubaligh dan kiai penyambung lidah Nabi?
Jangan ganggu mereka.
Para cendikiawan sedang memikirkan segalanya
Para seniman sedang merenungkan apa saja
Para mubaligh sedang sibuk berteriak ke mana-mana
Para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa
Para pemimpin sedang mengatur semuanya
Biarkan mereka di atas sana
Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri.

Kawan, selamat tahun baru
Belum juga tibakah saatnya kita menunduk dan memandang diri sendiri?

Menyimak larik-larik puisi tersebut seakan pembaca diajak larut di dalamnya. Pembaca bisa merasakan seolah-olah sebagai objek atau pemeran utamanya dalam tiap larik puisinya. Puisi yang syarat akan kritik moral keseharian serta kecintaan kepada Sang Pencipta. Dengan gaya bahasa yang sederhana dan kadang terkesan jenaka, puisi ini terasa sangat indah. Puisi religius, kritikan, dan renungan sangat terasa dalam setiap baitnya. Namun demikian, mampu menyentuh dan mengetuk mata batin pembaca dengan pelan tapi mengena. Puisi Musofa Bisri adalah refleksi dari kesadaran sosio-religiusnya dalam bahasa yang penuh tenaga: keras, ironis, dalam, kocak, jenaka. Gus Mus merupakan sosok manusia dengan kedalaman visi seorang ulama dan ketajaman intuisi seorang penyair.

Semoga tahun baru ini menyadarkan kita betapa rendahnya kita di hadapan Sang Kuasa. Sungguh sangat sedikit amal kebaikan yang kita lakukan, apalagi dibandingkan dengan ke-Mahaluasan rahmat-Nya. Selamat Tahun Baru 1435 Hijriyah, Kawan. Salam.##

Idul Fitri dalam Puisi

IDUL FITRIIdul Fitri merupakan salah satu hari besar umat muslim yang jatuh setiap tanggal 1 Syawal. Idul Fitri dirayakan setelah satu bulan penuh umat muslim melaksanakan ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Idul Fitri sendiri seringkali dimaknai sebagai kembalinya seorang manusia kepada fitrah kesucian setelah diuji selama Ramadhan untuk senantiasa mengendalikan diri dan hawa nafsunya, dari makan, minum, serta berbagai bentuk keserakahan lainnya. Oleh karena itu, Idul Fitri juga dikenal sebagai hari kemenangan, kemenangan dalam memerangi hawa nafsu.

Perayaan Idul Fitri yang bermakna dengan kembali kepada kesucian seringkali juga diwarnai dengan kegiatan umat manusia untuk meminta maaf kepada sesama. Dengan saling meminta maaf, manusia menjadi suci, bersih, tak ternoda oleh kesalahan terhadap sesama manusia. Oleh karena itu, hari raya Idul Fitri sering juga disebut sebagai hari Lebaran, meleburkan segala kesalahan.

Ada beragam cara yang dilakukan manusia untuk memaknai Idul Fitri, di antaranya melalui puisi. Penyair atau pengarang puisi memiliki pengalaman religius yang beragam untuk dituangkan dalam puisi-puisinya. Para penyair pun mencoba melihat Idul Fitri dari sudut pandang yang beragam pula. Berikut ini beberapa puisi bertema Idul Fitri atau Lebaran dari beberapa penyair terkemuka Indonesia.

Malam Lebaran karya Sitor Situmorang

Puisi ini barangkali merupakan puisi Lebaran paling fenomenal. Mengingat puisi ini sangat pendek, hanya terdiri dari satu kalimat yang di susun dalam dua baris

MALAM LEBARAN

Bulan
di atas kuburan

Jejak imajinasi Lebaran yang dituliskan Sitor Situmorang dalam puisi “Malam Lebaran” (1954) di atas kerap membuat kerepotan dalam interpretasi. Pembaca dan bahkan kritikus sastra repot untuk membaca dan menilai puisi “Malam Lebaran” karena konstruksi teks pendek dan simbolis. Puisi itu hadir dalam sebuah kalimat pendek: Bulan di atas kuburan. Lebaran memberi kesadaran bahwa hidup dan mati manusia memiliki sekian simbol dan interpretasi. Lebaran mungkin menjadi titik penting untuk kembali membaca dan menilai manusia. Atau bisa juga diinterpretasikan sebagai kedukaan seseorang (atau sebagian orang) ketika merayakan Lebaran.

Perdebatan mengenai puisi ini juga menyangkut masalah keberadaan bulan di malam lebaran. Sebagaimana kita ketahui bahwa lebaran selalu jatuh pada tanggal 1 Syawal yang pada tanggal ini keberadaan bulan tentu tidak kelihatan. Jadi bagaimana bisa ada bulan di atas kuburan pada malam lebaran? Namun demikian, sebagai sebuah karya sastra tentunya semua kembali pada imajinasi pengarangnya dan interpretasi pembacanya.

Selamat Idul Fitri karya A. Mustofa Bisri (Gus Mus)

  SELAMAT IDUL FITRI

Selamat idul fitri, bumi
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak semena-mena
Kami memperkosamu
 
Selamat idul fitri, langit
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak henti-hentinya
Kami mengelabukanmu
 
Selamat idul fitri, mentari
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak bosan-bosan
Kami mengaburkanmu
 
Selamat idul fitri, laut
Maafkanlah kami
Selama ini
Kami mengeruhkanmu
 
Selamat idul fitri, burung-burung
Maafkanlah kami
Selama ini
Memberangusmu
 
Selamat idul fitri, tetumbuhan
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak puas-puas
Kami menebasmu
 
Selamat idul fitri, para pemimpin
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak habis-habis
Kami membiarkanmu
 
Selamat idul fitri, rakyat
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak sudah-sudah
Kami mempergunakanmu.
 

A. Mustofa Bisri atau yang juga dikenal dengan Gus Mus, merupakan salah satu penyair Indonesia. Karya-karyanya cukup banyak dan beragam. Puisi “Selamat Idul Fitri” tersebut menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Ciri-cirinya dapat diperhatikan pada bahasa konotatif dan bersifat referensional atau ada rujukan di dunia nyata pada puisi tersebut. Puisi ini termasuk “Puisi Bebas” karena tidak memiliki rima. Meskipun di puisi ini tidak memiliki rima tetapi puisi ini memiliki nada yang begitu dalam dari setiap diksinya. Hal pertama dan yang paling terlihat dalam puisi ini adanya repetisi yang digunakan penyair dari awal sampai akhir puisi, yang cukup memberikan efek tersendiri dan menekankan sesuatu yang ingin Gus Mus sampaikan.

Hal utama yang ingin disampaikan Gus Mus melalui puisi “Selamat Idul Fitri” tersebut adalah kerendahan hati seorang manusia untuk meminta maaf kepada “semua” atas kesalahan yang pernah diperbuatnya sebagai bentuk upaya kembalinya manusia tersebut kepada kesucian “fitrah” yang merupakan hakikat Idul Fitri sesungguhnya.

Idul Fitri karya Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri merupakan salah satu penyair sufi Indonesia terkemuka. Ia juga kita kenal sebagai cerpenis, eseis dan budayawan. Lahir di Rengat Riau 24 Juni 1941, ia terkenal sejak awal 1970-an tatkala mengumumkan Kredo Puisi-nya (1973) “kata harus dibebaskan dari beban pengertian”  yang mendasari sebagian besar dari puisi-puisi  ciptaannya. Kredo puisi Sutardji pada masa itu  serta-merta menimbulkan kontroversi dalam kesusastraan Indonesia.

Kumpulan puisi Sutardji diantaranya O (1973), Amuk (1979), dan O Amuk Kapak (1981). Pada puisi-puisinya O dan Amuk, tertangkap kesan adanya semangat awal Sutardji dalam pencarian Sang Maha Penyair. Kecenderungan sufistiknya sangat nampak pada kumpulan puisi ketiganya O Amuk Kapak.

Tanpa kita perlu berpanjang-panjang, marilah kita menyelami pengakuan masa-masa kelam Sutardji Calzoum Bachri dan pertobatannya dalam puisi Idul Fitri. Puisi ini diciptakan pada 1987. Selengkapnya:

IDUL FITRI

Lihat
Pedang taubat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa Ramadhanku
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntai wirid tiap malam dan siang
telah kuhamparkan sajadahku
yang tak hanya nuju Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam Qadar aku pun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya

Maka aku girang-girangkan hatiku
Aku bilang :
Tardji, rindu yang kau wudhukkan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
namun si bandel Tardji ini sekali merindu
Takkan pernah melupa
Takkan kulupa janjiNya
Bagi yang merindu insya-Allah kan ada mustajab cinta

Maka walau tak jumpa denganNya
shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku padaNya
Dan semakin dekat
Semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai berlupa

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut
di jalan lurus
Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir
tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kini biarkan aku menenggak arak cahayaMu
di ujung sisa usia

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir
tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
kukenakan zirah la ilaha illallah
aku pakai sepatu siratul mustaqiem
akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat
dan kurayakan kelahiran kembali
di sana

Sutardji Calzoum Bachri, 1987

Menyimak dan menyelami puisi Idul Fitri Sutardji Calzoum Bachri di atas, tentunya kita sepakat bahwa proses “penyucian jiwa” setiap individu berbeda-beda kadarnya, sebagaimana dialami Sutardji. Namun, sangat dimungkinkan setiap individu mengalami kelahiran kembali dirinya sebagai manusia (dengan fitrah  awalnya). Jalan ke arah itu, bagaikan tengah memasuki sebuah rumah dengan sederet pintu-pintu rahasia di dalamnya. Guna mendapatkan ridha-Nya, tugas kita yakni menemukan kunci pembuka pintu rahasia tersebut.

Penyair, kata Sutardji, bukan penyaksi kejadian yang lalu-lalang di hadapan mata inderanya. Dia adalah penyaksi kebenaran hakiki, yang merupakan pusat dari kehidupan. Puisi adalah ungkapan dari sebuah perjalanan spiritual menuju ke lubuk rahasia-rahasia. Jika sudah sampai kepada yang rahasia, ia akan mengalami pencerahan dan karenanya akan mengalami kebangunan diri kembali.

Demikianlah beberapa puisi Idul Fitri atau Lebaran yang bisa ditampilkan. Tentunya masih banyak puisi-puisi bertema Idul Fitri atau Lebaran lainnya. Bahkan akhir-akhir ini muncul juga fenomena memberikan ucapan selamat Idul Fitri atau Lebaran dalam bentuk puisi. Hal ini menunjukkan bahwa Idul Fitri atau Lebaran telah menjadi perayaan estetika untuk mengungkapkan religiositas penulisnya. Salam.##