UN, Antara Nilai dan Integritas

IMG-20160323-WA0005Hasil Ujian Nasional tingkat SMA sederajat sudah diumumkan awal Mei lalu. Tidak seperti biasanya, hingar bingar mengenai perolehan nilai tertinggi untuk daerah maupun personal tak lagi membahana. Bertahun-tahun lalu, ujian nasional (UN) dipandang sebagai puncak prestasi sekolah ataupun daerah, apalagi jika mencapai kelulusan 100 persen. Hal ini membuat Kemendikbud berupaya mengembalikan UN pada kedudukan dan fungsinya, yaitu memotret capaian pendidikan yang sesungguhnya.

Mendikbud Anies Baswedan mengusung indeks integritas Ujian Nasional (IIUN) sebagai parameter yang membanggakan sekolah dan daerah. Sekolah dengan IIUN tinggi diberi piagam sebagai bukti bahwa sekolah itu berikhtiar menjunjung kejujuran dalam penyelenggaraan UN.

Pendekatan ini membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan. Nilai UN untuk SMA sederajat tahun ini mengalami penurunan. Bahkan, penurunan tinggi terjadi pada sekolah yang menggelar UN berbasis komputer. Ke depan tentu diharapkan integritas yang tinggi bisa dibarengi dengan prestasi yang membaik pula. Dengan demikian, dapat diindikasikan bahwa sekolah dapat memperoleh nilai IIUN yang tinggi dan prestasinya juga tinggi berarti telah melaksanakan kegiatan pembelajaran yang baik.

Hal ini membutuhkan kerja keras bersama agar mengubah cara belajar yang tadinya untuk lulus UN menjadi menguasai kompetensi yang sudah ditetapkan kurikulum. Ini menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan kita.

Iklan

Ujian Nasional dan Kejujuran

Ujian Nasional sesungguhnya lebih dari sekadar menjawab soal-soal di atas kertas.
Sebab di situ ada yang jauh lebih penting, yaitu: ujian kejujuran,
ujian kerja keras, ujian ketekunan, juga ujian kesabaran
dari seluruh proses yang sudah dijalani bertahun-tahun.
 

menyontek_3Pekan ini, hajatan tahunan Ujian Nasional tingkat SMA sederajat kembali digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pelaksanaan hajatan tahunan ini hampir tidak pernah sepi dari masalah hingga menuai kontroversi antara yang pro dan yang kontra. Banyak hal yang disoroti terkait dengan pelaksanaan Ujian Nasional ini. Mulai dari esensinya sebagai salah satu faktor penentu kelulusan, masalah distribusi soal, materi soal, isu kebocoran soal, penyebaran kunci jawaban, tindak kecurangan dan sebagainya.

Ujian Nasional sesungguhnya sudah berpuluh-puluh tahun dilaksanakan, meski dengan nama yang berganti-ganti, mulai dari Evaluasi Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) tahun 1985, Ujian Akhir Nasional (UAN), dan sekarang Ujian Nasional (UN). Ujian Nasional sebenarnya dimaksudkan sebagai alat ukur yang dipergunakan pemerintah untuk menentukan tingkat daya serap sekaligus untuk menilai keberhasilan proses belajar mengajar secara nasional. Dari  hasil itu akan ada pemetaan tentang kebijakan yang akan diambil demi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Sejak digunakan sebagai penentu kelulusan (mulai tahun 2003), Ujian Nasional benar-benar menjadi momok. Tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi kepala sekolah (sekolah), kepala dinas, hingga kepala daerah. Hal ini terjadi karena keberhasilan UN yang dilihat dari tingkat kelulusan peserta didik di suatu sekolah atau daerah akan berpengaruh dalam meningkatkan gengsi sekolah atau daerah tersebut. Disadari atau tidak, hal ini telah turut berperan sebagai faktor pendorong munculnya berbagai tindak kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Mulai dari nyontek berjamaah, guru dan kepala sekolah yang menyebarkan kunci jawaban, jual beli kunci jawaban, dan sebagainya.

Kejujuran benar-benar menjadi barang langka dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Hal ini tentu benar-benar menampar wajah dunia pendidikan itu sendiri. Dunia pendidikan yang digadang-gadang sebagai institusi yang berperan dalam membangun generasi bangsa secara fisik dan mental sepertinya telah gagal. Celakanya, kegagalan ini justru terjadi karena ulah dari para pelaku pendidikan itu sendiri. Bila hasil Ujian Nasional didapatkan dari perbuatan yang tidak jujur, bagaimana akan bisa digunakan sebagai alat ukur kualitas dan pemetaan pendidikan?

Perlu dipahami oleh semua pihak, bahwa ujian sesungguhnya merupakan hal yang biasa diberikan kepada anak sekolah. Dalam setiap ujian, tentu wajar jika ada yang lulus atau tidak lulus. Kelulusan atau ketidaklulusan tentu bisa menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak, pemerintah, sekolah, guru, dan peserta didik sendiri. Guru harus berani jujur untuk melihat dirinya, apakah selama ini sudah mengajar dengan baik kepada peserta didiknya? Peserta didik juga harus berani jujur untuk mengakui, apakah selama ini sudah belajar dengan baik? Dan sebagainya. Dengan demikian, ujian nasional tidak hanya menguji peserta didik, tetapi juga menguji guru, sekolah, pemerintah agar tetap berada di jalur yang benar. Selamat menempuh Ujian Nasional, semoga sukses. Salam.##

Jelang Ujian Nasional 2012

Ujian Nasional (UN) tinggal hitungan hari. Dimulai Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK, yang dilaksanakan tanggal 16 sampai dengan 19 April 2012 ini, dilanjutkan dengan Ujian Nasional tingkat SMP/MTs, dan ditutup dengan UASBN tingkat SD/MI.

Sebagai Ujian Akhir, sekaligus berperan sebagai penentu kelulusan, Ujian Nasional (UN) sering dipandang sebagai momok yang menyeramkan. Tidak saja bagi peserta didik, tetapi juga bagi guru dan orang tua. Persiapan pun dilakukan sejak jauh-jauh hari, bahkan peserta didik baru menginjak jenjang kelas akhir. Semua pihak tentu saja menginginkan yang terbaik.

Di saat hari H Ujian Nasional kian mendekat, ada beberapa hal yang tidak dapat diremehkan, bahkan musti juga diperhatikan oleh peserta didik. Di antaranya sebagai berikut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan menjelang Ujian Nasional

  1. Siapkan materi. Hal ini tentu sudah dilaksanakan jauh-jauh hari. Dengan belajar maksimal tentu materi ujian semakin dikuasai.
  2. Siapkan fisik. Penguasaan materi tidak ada artinya tanpa fisik yang prima. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sangatlah penting. Termasuk di dalamnya menjaga makanan. Tidak mengonsumsi makanan yang dapat menimbulkan gangguan fisik, misalnya makan terlalu pedas, dan sebagainya.
  3. Istirahat dan tidur yang cukup. Menjelang hari H, belajar hendaknya tidak lagi terlalu diforsir dan sampai larut malam. Cukup membuka-buka materi sepintas untuk mengingat hal-hal yang pernah dipelajari. Tidur larut dapat membuat kondisi lemah saat mengerjakan ujian keesokan harinya.
  4. Siapkan segala perlengkapan dan nomor ujian. Alat tulis yang digunakan untuk ujian hendaknya dimiliki sendiri. Tidak meminjam teman saat ujian berlangsung.
  5. Siapkan mental. Persiapan mental dapat dilakukan dengan senantiasa berdoa kepada Tuhan. Selain itu, mohon doa restu pada orang tua dan guru. Doa serta restu orang tua dan guru akan memberi ketenangan jiwa saat mengerjakan ujian.

Baca lebih lanjut

Ada Apa Dibalik Merosotnya Nilai UN Bahasa Indonesia?

Pengumuman kelulusan siswa tingkat SMA/SMK/MA telah disampaikan tanggal 26 April 2010 kemarin. Dan telah kita ketahui bersama, kelulusan siswa tingkat SMA/SMK/MA secara nasional tahun ini mengalami penurunan. Ironisnya, mata pelajaran yang mengganjal kelulusan adalah Bahasa Indonesia. Hal ini mengejutkan sekaligus memprihatinkan banyak pihak. Hingga berita-berita di berbagai media pun ramai membicarakan hal ini.

Memang, di berbagai daerah, seperti Jakarta, Semarang, Medan, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar dan kota-kota lainnya diberitakan bahwa penyebab ketidaklulusan tersebut adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Memang, sangatlah mengherankan bahwa  bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia, ternyata saat hal itu dijadikan materi ujian banyak siswa yang tidak lulus. Hal ini terasa aneh dan membuat kita miris. Mengapa siswa kita bisa sangat sempurna dalam mengerjakan soal-soal mata pelajaran bahasa Inggris dan MIPA, tetapi menjadi kelabakan ketika harus berhadapan dengan soal-soal Bahasa Indonesia? Pertanyaan ini tentunya menjadi renungan kita bersama sebagai bahan kajian untuk perbaikan ke depan.

Baca lebih lanjut

Sikap dan Pandangan Siswa terhadap Ujian Sekolah

Sikap dan Pandangan  Siswa terhadap Ujian Sekolah

(sedikit catatan dari lapangan)

Ujian Nasional dan Ujian Sekolah memang telah berlalu, bahkan pengumuman kelulusan (tingkat SMA/SMK/MA) pun telah disampaikan tanggal 26 April 2010 ini. Namun, ada hal yang masih mengusik pikiran penulis sehingga mendorong penulis untuk menuangkannya dalam tulisan ini, khususnya berkenaan dengan  Ujian Sekolah.

Ujian Sekolah sebetulnya merupakan kegiatan rutin akhir tahun yang dilaksanakan oleh sekolah. Ujian Sekolah diselenggarakan sebagai ujian akhir bagi siswa dengan materi ujian mata pelajaran yang tidak diujikan secara nasional.

Namun, menurut pengamatan penulis di lapangan, akhir-akhir ini Ujian Sekolah (baik Ujian Praktik maupun Ujian Tulis) seringkali dianggap remeh oleh siswa, dalam arti siswa kurang serius, dan berpandangan bahwa Ujian Sekolah hanyalah formalitas saja.

Berkenaan dengan sikap siswa yang demikian, sebagai pelaku yang berada di lapangan, penulis tidak serta merta menyalahkan sikap siswa. Namun, dengan segala keterbatasan, penulis mencoba mencari penyebab sikap siswa tersebut.

Baca lebih lanjut