Mencintai Pekerjaan

pembelajaran ctlMemiliki pekerjaan tetap tentu menjadi dambaan bagi setiap orang. Terlebih setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan dan mendapatkan selembar ijazah, setiap orang pasti akan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan pekerjaan, seseorang berharap dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, bekerja adalah kebutuhan eksistensial. Bekerja adalah aktualisasi diri. Oleh karena itu, banyak cara yang dilakukan orang untuk mendapatkan pekerjaan yang didambakan. Bahkan demi sebuah pekerjaan, tidak jarang orang yang rela menempuh ‘jalan belakang’.

Adalah kenyataan bahwa mendapatkan pekerjaan yang layak merupakan hal mewah untuk saat ini. Mengingat, di sekitar masih banyak orang yang menganggur, meski sudah mengantongi ijazah pendidikan tinggi. Oleh karena itu,  mendapatkan pekerjaan tetap dan layak merupakan suatu anugerah dalam hidup yang wajib disyukuri.

Namun demikian, tidak semua orang yang telah mendapatkan pekerjaan mampu mensyukurinya. Dalam keseharian tidak jarang dijumpai orang suka mengeluh dengan pekerjaannya, tidak mencintai pekerjaannya, sehingga menjadi tidak sungguh-sungguh dalam bekerja alias setengah hati. Beragam alasan yang dilontarkan seseorang yang tidak mencintai pekerjaannya. Ada yang soal gaji rendah, teman yang tidak bersahabat, suasana kerja yang tidak menyenangkan, atasan yang pilih kasih, tugas yang bertumpuk, karir yang tidak naik-naik, dan seribu satu alasan lainnya. Maka, tidak heran jika setiap pagi rasanya berat sekali untuk berangkat ke kantor. Setelah tiba di kantor juga tidak bersungguh-sungguh mencurahkan seluruh kemampuan, bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Di kantor pun rasanya tidak kerasan dan ingin cepat pulang. Seakan-akan ia tidak membutuhkan pekerjaan itu. Padahal, pernahkah dibayangkan; bagaimana seandainya besok pagi ia kehilangan pekerjaan itu? Apakah hidupnya akan tetap baik-baik saja? Atau ingat kembali ke masa lalu; apakah dulu ia melamar pekerjaan tersebut atau pekerjaan tersebut yang mencarinya? Nah, lho …

Sering mengeluh dan menjadikan pekerjaan sebagai tempat pelampiasan kekecewaan dan kekesalan tentu bukanlah hal yang bijak. Tidak ada yang bisa didapatkan dari keluhan terhadap pekerjaan. Justru dengan keluhan itu hati semakin lelah, produktivitas semakin rendah, dan penampilan semakin payah. Hal ini akan menjauhkan seseorang dari rasa syukur. Padahal, rasa syukur akan membimbing seseorang untuk menemukan makna dari pekerjaan yang dijalani, sehingga perlahan-lahan akan menumbuhkan cinta dalam hatinya pada pekerjaannya itu. Karena itu, lebih baik alokasikan energi yang digunakan untuk mengeluh menjadi daya dorong untuk lebih kreatif dan produktif.

Mencintai pekerjaan memang merupakan hal yang seharusnya dimiliki oleh setiap pekerja. Bahkan, Islam menganjurkan memaknai bekerja sebagai ibadah. Bekerja juga berarti menghargai hidup. Dengan mencintai pekerjaan, seorang pekerja tidak hanya akan bekerja dengan kemampuan fisik dan otak, tetapi juga akan bekerja dengan hati, dengan spirit pengabdian. Mencintai pekerjaan akan menumbuhkan energi yang positif. Kecintaan pada pekerjaan biasanya akan berimbas pada tingkat produktivitas, bahkan seorang pekerja rela menghabiskan waktu lebih dari jam kerja apabila dia sudah mencintai bidang pekerjaan yang tengah digeluti. Semua akan dilakukan dengan senang hati, tanpa beban. Hati yang selalu senang akan memunculkan ide-ide kreatif, inovatif sehingga mendorong seseorang untuk semakin berprestasi. Sebagaimana ungkapan yang menyebutkan “Anda tidak akan mencapai kesuksesan yang sesungguhnya jika Anda tidak mencintai apa yang Anda kerjakan”.

Pekerjaan terkadang tidak gampang untuk dijalani. Pekerjaan terkadang tidak selalu menyenangkan. Namun, memiliki pekerjaan itu tentu jauh lebih baik daripada kondisi sebaliknya. Salam.##.

Memaknai Pendidikan

hardiknas

Di tengah kegaduhan yang melanda dunia pendidikan, hari ini, 2 Mei 2013, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Hari Pendidikan Nasional dicetuskan sebagai bentuk kesadaran bangsa Indonesia dalam memandang pendidikan sebagai suatu hal yang penting bagi keberlangsungan hidup sebuah bangsa. Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia yang akan berperan sebagai penerus estafet pembangunan dan kemajuan bangsa.

Dalam persaingan global yang sangat deras, pendidikan mempunyai peran penting dalam upaya memajukan bangsa. Bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global, pendidikan merupakan kunci utamanya. Sumber daya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya sumberdaya manusia yang buruk, akan secara pasti melahirkan masyarakat yang buruk pula.

Namun, perlu juga diingat bahwa pendidikan bukanlah sekadar transfer ilmu. Menurut kamus besar bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Sementara itu, melacak gagasan Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, beliau berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak. Komponen budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak tidak boleh dipisah-pisahkan agar dapat memajukan kesempurnaan pribadi anak.

Mencermati pengertian tersebut tersirat bahwa melalui pendidikan diharapkan terjadi proses humanisasi, pembukaan wawasan dan cakrawala. Pendidikan juga membawa manusia keluar dari kebodohan. Maka, hakikat pendidikan mempersiapkan peserta didik secara lahir dan batin agar mampu berperan di masa datang. Anak tidak cukup hanya cerdas secara pikiran, tetapi juga harus dapat menjalin kerjasama yang baik dengan orang lain, serta memiliki pribadi yang dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Di hari pendidikan ini, perlu kiranya mengingat kembali makna pendidikan yang sesungguhnya. Pendidikan (mendidik) bukan sekedar menjejali ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Namun, yang utama adalah membentuk dan membangun peserta didik menjadi pribadi yang kuat secara lahir maupun batin, fisik maupun mental, serta perilaku mereka untuk dapat menjawab tantangan zaman. Pendidikan yang dapat mewujudkan generasi bangsa sesuai dengan harapan di atas tentu memerlukan kerjasama berbagi pihak. Sebab, sesungguhnya pendidikan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas dan tanggung jawab seluruh warga bangsa Indonesia. SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL. Salam.##

Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) 2013

lomba-guru-LKIGUntuk yang ke-21 LIPI kembali menggelar lomba kreativitas ilmiah bagi guru, yang biasa dikenal dengan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) tahun 2013.

LKIG adalah lomba kreativitas bagi guru dalam upaya pengembangan proses pembelajaran bagi para peserta didik. Bagi guru yang berminat dan ingin mengembangkan diri tentunya akan sangat tertarik dengan lomba semacam ini. Selain untuk meningkatkan kualistas diri, ajang ini merupakan ajang bergengsi bagi guru.

Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) Ke-21 Tahun 2013

Persyaratan

  1. Peserta adalah guru yang mengajar pada lembaga pendidikan formal.
  2. Belum pernah menjadi pemenang LKIG dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
  3. Sistematika Penulisan : Abstrak, Pendahuluan, Metodologi, Isi/Pembahasan, Kesimpulan dan Daftar Pustaka.
  4. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, diketik HVS A4, berjarak 1½ spasi dengan jenis huruf Arial ukuran 11.
  5. Karya ilmiah harus asli (bukan jiplakan/plagiat) dan belum sedang diikutsertakan dalam lomba sejenis tingkat nasional.
  6. Jumlah halaman karya ilmiah maksimal 25 halaman (termasuk sketsa/gambar/foto).
  7. Melampirkan rekomendasi Kepala Sekolah dan Daftar Riwayat Hidup (nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat rumah dan sekolah/instansi, telepon/HP, serta email).
  8. Format judul, abstrak, surat rekomendasi dan daftar riwayat hidup dapat diunduh melalui situs LKIG 2013 http://kompetisi.lipi.go.id/lkig21/.
  9. Peserta mendaftar dan mengunggah karya tulis melalui situs http://kompetisi.lipi.go.id/lkig21/.
  10. Karya ilmiah dikirimkan secara elektronik diterima oleh panitia selambat-lambatnya tanggal 21 Agustus 2013.
  11. Panduan dan informasi lomba dapat dilihat melalui situs LKIG 2013.
  12. Pengumuman finalis dapat dilihat melalui situs LKIG 2013 pada tanggal 18 September 2013.
  13. Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat.

Bidang Lomba

  • Guru SD/sederajat: umum (salah satu pelajaran)
  • Guru SMP/sederajat dan SMA/sederajat: 2 bidang yaitu Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) dan Bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Teknologi (MIPATEK)

Tanggal Penting

  • 30 September 2013 : Registrasi Peserta dan Setting Pameran
  • 1 Oktober 2013 : Pameran Finalis
  • 2 Oktober 2013 : Presentasi Finalis dan Penganugerahan Pemenang
  • 3 Oktober 2013 : Kepulangan Peserta

Panitia LKIG Ke-21 Tahun 2013
Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan Iptek LIPI
Sasana Widya Sarwono Lantai 5
Jl. Jenderal Gatot Subroto No. 10
Jakarta Selatan 12710
Telp. (021) 5225711 Ext. 1276
Fax. (021) 5251834, 52920839

sumber: http://kompetisi.lipi.go.id/lkig21/

Yang Berbeda di Ujian Nasional 2013

0939243620X310Ujian Nasional (UN) merupakan sarana penilaian hasil belajar para siswa yang dilakukan oleh pemerintah. Perhelatan pendidikan tahunan yang dilakukan secara serentak ini diberlakukan bagi siswa jalur formal maupun non formal, yang berada di kelas 6 SD/MI, siswa kelas IX SMP/MTs, dan siswa kelas XII SMA/MA/SMK. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mencantumkan hasil Ujian Nasional (UN) para peserta didik akan digunakan sebagai evaluasi pengendalian mutu pendidikan secara nasional, sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Meski sering memunculkan kontroversi lantaran banyaknya persoalan terkait pelaksanaan Ujian Nasional, tahun ini pemerintah kembali menggelar Ujian Nasional (UN) 2013. Berbagai persoalan sering muncul menyertai pelaksanaan Ujian Nasional ini, antara lain masalah distribusi soal, kebocoran soal, sampai masalah kejujuran. Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk meminimalisasi masalah-masalah tersebut dengan melakukan beberapa perubahan dan perbaikan pada pelaksanaan Ujian Nasional 2013 ini.

Bila mencermati Prosedur Operasional Standar Pelaksanaan (POS) Ujian Nasional 2013 yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai pihak yang membantu pemerintah dalam penyelenggaraan Ujian Nasional, maka akan ditemukan hal-hal baru dalam Ujian Nasional 2013 ini. Hal-hal baru tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Soal pada setiap ruang terdiri dari 20 macam paket soal. Artinya setiap siswa mengerjakan paket soal yang berbeda.
  2. Kode paket soal menggunakan sistem barcode (bukan huruf atau angka). Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk mencegah adanya kebocoran soal.
  1. Naskah soal dan LJUN menyatu (satu set) dan harus dipisahkan sendiri oleh siswa ketika akan mengerjakan.
  2. Siswa harus mencantumkan nama dan nomor ujian pada naskah soal dan LJUN.
  3. Terdapat sanksi bagi Peserta UN maupun Pengawas UN yang melakukan pelanggaran sesuai dengan kategori pelanggarannya (ringan, sedang, dan berat)

Berkaitan dengan hal-hal baru tersebut, maka peserta Ujian Nasional harus benar-benar memperhatikan dan melakukan tahapan-tahapan kerja sebagai berikut.

  1. Peserta UN harus memastikan bahwa antara naskah soal dan LJUN masih menyatu (belum terpisah). Kalau sudah dalam keadaan terpisah, peserta wajib melaporkannya kepada pengawas dan meminta untuk diganti. Jangan sampai mengambil risiko, tetap mengambil naskah soal dan LJUN yang sudah terpisah.
  2. Pastikan pula bahwa naskah soal dan LJUN tidak dalam kondisi rusak atau cacat. Peserta perlu mengecek dan memperhatikan satu persatu lembar pada naskah soal dan memastikan bahwa tidak ada satu pun soal yang rusak, tidak terbaca, atau tidak lengkap. Tahapan ini penting karena jika peserta baru menemukan soal yang rusak di tengah-tengah proses mengerjakan, peserta harus meminta naskah soal dan LJUN yang baru. Itu artinya, peserta harus mengisi identitas dan mengerjakan soal dari awal lagi.
  3. Bila naskah soal dan LJUN sudah dipastikan masih bersatu dan dalam keadaan baik serta lengkap, peserta UN wajib menuliskan identitas pada naskah soal dan LJUN. Langkah ini penting untuk mengantisipasi tertukarnya naskah soal dengan LJUN bila pada saat mengerjakan, ada angin besar yang menerbangkan naskah soal dengan LJUN sehingga dimungkinkan dapat tertukar dengan peserta lain.
  4. Setelah identitas ditulis pada naskah soal dan LJUN, peserta UN dapat memisahkan naskah soal dengan LJUN-nya dengan hati-hati menggunakan penggaris.

Langkah kerja ini mohon diperhatikan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh peserta ujian demi kebaikan dan kelancaran dalam menempuh Ujian Nasional 2013.

SELAMAT MENEMPUH UJIAN NASIONAL …