Menciptakan Pembelajaran Puisi yang Menarik

Apresiasi puisi merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA. Namun, kenyataan di lapangan, kegiatan ini sering menemui berbagai kendala, baik dari pihak guru maupun siswa. Guru yang tidak menyukai sastra cenderung menghindari pembelajaran apresiasi puisi ini. Kalau pun mau mengajarkan, mereka akan mengajarkannya dengan sepintas lalu, dengan cara ala kadarnya, sehingga tidak menarik dan terasa sangat membosankan.
Sementara itu, tak jauh beda pula bila ditilik dari sisi siswa. Bukan rahasia lagi, di dalam kelas masih banyak (tidak semua) siswa yang kurang suka pada puisi. Siswa seringkali sudah apriori ketika mendengar kata ’puisi’. Mereka menganggap bahwa puisi itu sesuatu yang sulit untuk dipelajari. Dalam kegiatan apresiasi puisi, banyak siswa yang merasa akan dihadapkan pada sebuah pekerjaan berat yang sering menimbulkan rasa was-was, bimbang, ragu.
Kondisi semacam ini bila dibiarkan tentu akan semakin menjauhkan siswa dari puisi. Padahal, kegiatan apresiasi sastra – termasuk puisi – sangat bermanfaat untuk memperkaya jiwa penikmatnya. Bukankah dalam puisi sering dijumpai banyak hal? Mulai hal-hal yang berkaitan dengan religiusitas, sosial, politik, moral, dan masih banyak lagi.
Pemegang kunci utama untuk memperbaiki kondisi ini tentu saja guru. Guru harus mau berupaya untuk menciptakan pembelajaran puisi yang menarik. Guru harus berani melakukan inovasi pembelajaran. Selama ini, guru bahasa Indonesia di sekolah dalam pelaksanaan pembelajaran sastra – termasuk puisi – terlalu berorientasi pada teori. Jalannya pembelajaran sangat teoretis sehingga produknya adalah membosankan. Apresiasi sebagai titik berat pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia pun sering diabaikan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk menciptakan pembelajaran puisi yang menarik adalah dengan memanfaatkan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengalami revolusi yang sangat cepat. Dalam bidang pendidikan, perubahan-perubahan ini menjadi salah satu modal penting penyelenggaraan kegiatan pendidikan yang lebih efisien dan efektif. Dalam hal ini, pendekatan teknologis menjadi bagian yang penting dan tidak dapat dipisahkan dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Sekolah-sekolah pun terus berupaya melengkapi fasilitas yang terkait dengan perkembangan teknologi ini. Misalnya, laboratorium bahasa, LCD Proyektor, jaringan internet dan sebagainya.
Berdasarkan potensi yang dimiliki sekolah, guru dapat menyajikan pembelajaran yang menarik melalui pembelajaran berbasis TIK. Misalnya, dengan menampilkan video musikalisasi puisi atau pun video pembacaan puisi dari para sastrawan yang banyak ditemukan dan dapat diunduh dari internet. Selama ini, mungkin siswa hanya mendengar nama dan membaca karya-karya sastrawan Taufik Ismail, W.S. Rendra, Emha Ainun Nadjib, dan kawan-kawan dari buku yang siswa baca. Dengan bantuan teknologi, guru dapat menghadirkan sastrawan-sastrawan tersebut ke ruang kelas. Bagaimana wajah penyair-penyair besar tersebut dan bagaimana mereka membacakan puisi-puisi yang mereka cipta.
Menyimak pembacaan puisi maupun musikalisasi puisi melalui video ini tentu lebih menarik bagi siswa dibandingkan dengan hanya membaca buku teks. Melalui video, siswa lebih mudah menangkap pesan puisi. Sebab video seringkali dilengkapi dengan suara dan gambar. Di samping itu, siswa juga memperoleh pengalaman belajar yang baru. Tidak hanya mendengarkan guru ceramah di depan kelas. Bila siswa sudah tertarik, maka guru dapat lebih mudah menyampaikan inti dari pembelajaran puisi sehingga sasaran utama pembelajaran apresiasi sastra sebagai wahana memperkaya jiwa dapat tercapai. Selamat mencoba.
Berikut ini contoh-contoh video puisi yang saya buat dengan movie maker. Video ini mencoba menggabungkan MP3 musikalisasi puisi yang sudah ada dengan slide gambar dan teks.
Nilai-nilai Lokal yang Kian Tergerus Zaman
Perkembangan zaman dewasa ini membawa pengaruh besar bagi kehidupan manusia. Kemajuan teknologi informasi menjadikan dunia seolah nyaris tanpa batas. Peristiwa yang terjadi di suatu tempat, dalam waktu beberapa detik sudah dapat diketahui di belahan tempat lain yang jaraknya ribuan kilometer bahkan lebih. Demikian pula budaya dan pengaruh-pengaruh dari suatu negara dapat dengan mudah masuk ke negara lain. Tak terkecuali Indonesia.
Berbagai pengaruh global, melalui berbagai media informasi masuk ke Indonesia dan mempengaruhi kehidupan kita tanpa mampu kita hambat, baik positif maupun negatif. Pengaruh luar tersebut jika dibiarkan tanpa kendali akan menggusur nilai budaya setempat atau lokal, yang pada akhirnya bukan tidak mungkin menjadi hilang dari permukaan bumi.
Kenyataan yang dapat kita lihat sebagai akibat dari semakin tergerusnya nilai budaya setempat atau lokal adalah posisinya yang semakin terpinggirkan, terutama di mata generasi muda. Masyarakat Indonesia menganggap nilai budaya tradisional adalah sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman serta sudah tidak mampu untuk bersaing di tengah-tengah persaingan global. Masyarakat Indonesia menganggap bahwa segala sesuatu yang datang dari luar adalah lebih baik dan harus diikuti bahkan dijadikan pegangan hidup sehari-hari. Mulai dari makanan, pakaian, bahasa, pemberian nama, cara bergaul, model rambut, dan masih banyak lagi gaya hidup luar yang diserap habis-habisan oleh masyarakat Indonesia. Padahal, dalam kenyataannya tidak semua nilai dari luar tersebut positif, tetapi banyak pula nilai-nilai luar yang negatif dan bertentangan dengan norma dan nilai budaya lokal. Parahnya, budaya negatif inilah yang mudah dan banyak ditiru oleh masyarakat Indonesia.
Penggerusan nilai budaya setempat atau lokal dapat kita lihat dari semakin menggejalanya budaya negatif yang terjadi di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda, diantaranya :
1. Hilangnya budaya musyawarah dalam penyelesaian masalah. Perilaku kekerasan dan pengrusakan seolah sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pengrusakan dan penjarahan terhadap hak orang lain seolah menjadi bagian yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sebagian kelompok masyarakat dalam melampiaskan kekesalannya, bahkan tidak sedikit nyawa orang lain jadi sasaran. Musyawarah yang merupakan nilai budaya lokal yang dulu sering digunakan masyarakat untuk menyelesaikan masalah kian ditinggalkan.
2. Menurunnya rasa bangga dan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat dimana mereka tumbuh dan berkembang. Perilaku ini tampak dari menurunnya rasa peduli sebagian masyrakat kita terhadap lingkungan sekitar. Pada diri mereka tumbuh anggapan bahwa sesuatu yang datang dari luar lebih baik, sedangkan nilai budaya yang ada di lingkungannya dianggap ketinggalan zaman.
3. Semakin melunturnya semangat kebersamaan dan gotong royong pada masyarakat karena semakin tergeser oleh nilai individualis dan nilai materialis. Segala sesuatu diukur dengan ukuran materi atau uang.
Kenyataan tersebut hendaknya menyadarkan kita akan pentingnya mentransformasikan nilai-nilai budaya lokal kepada generasi berikutnya agar nilai-nilai tersebut tidak menguap ditiup oleh perkembangan zaman. Kita tentu tidak ingin nilai-nilai budaya lokal yang positif tersebut hilang ditelan zaman. Upaya melestaraikan nilai-nilai budaya lokal tentu saja menjadi pekerjaan rumah kita bersama bila menginginkan keberlangsungan nilai-nilai luhur bangsa ini tetap ada. Salam##.
Menjadikan Buku sebagai Tempat Rekreasi
Akhir Desember ini, sekolah memasuki libur semester ganjil. Libur, tentu saja menjadi waktu yang selalu ditunggu-tunggu, baik oleh pelajar, guru, maupun karyawan pada umumnya. Bagaimana tidak. Setelah hampir setiap hari berkutat dengan tugas-tugas, maka libur dianggap sebagai saat yang tepat untuk sejenak menyegarkan diri, baik secara fisik maupun psikis. Lantas apa yang dapat dilakukan saat liburan dalam rangka untuk menyegarkan fisik dan psikis tersebut?
Banyak orang beranggapan bahwa menyegarkan fisik dan psikis saat libur harus dengan rekreasi ke tempat-tempat yang menarik, sehingga tidak jarang mereka jauh-jauh hari sudah merencanakan dan mempersiapkan berbagai hal untuk menjemput liburan tersebut. Mulai dari dana, perbekalan, perlengkapan, tujuan liburan, dan sebagainya. Ya, sebagian besar masyarakat kita menganggap bahwa rekreasi adalah hal-hal yang bersifat fisik, tempat-tempat lahiriah yang hanya bersifat visual (terlihat mata). Memang, dengan mengunjungi tempat-tempat yang menarik, seseorang dapat merasakan kenyamanan secara fisik maupun psikis. Namun, tentu saja kegiatan semacam ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terlebih setelah libur masih banyak kebutuhan yang musti dipenuhi. Belum lagi kelelahan fisik yang juga tak dapat dihindarkan.
Lantas kegiatan macam apakah yang dapat memberikan kenyamanan secara fisik dan psikis namun tidak perlu mengeluarkan dana yang besar? Bila kita mau cermat, rekreasi sesungguhnya dapat dilakukan dengan mudah dan murah, yaitu rekreasi bersama buku atau membaca buku. Melalui kegiatan membaca buku, seseorang bisa melakukan rekreasi batin (psikis). Rekreasi lewat membaca buku ini dapat memperkaya jiwa atau batin pembacanya, di samping tentu saja juga memperkaya pengetahuannya.
Memang bukan merupakan sesuatu yang baru dan aneh bila banyak ditemukan buku yang dapat ’memperkaya’, ’mencerahkan’, ’menginspirasi’ pembacanya. Buku-buku yang mencerahkan ini pun juga tidak melulu buku-buku yang bertema ’berat’ dan dikemas sebagai bacaan yang serius. Namun, buku-buku yang mencerahkan ini banyak juga yang dikemas sebagai bacaan yang ’ringan’. Misalnya saja buku-buku motivasi hidup, kisah-kisah sederhana namun kaya makna, dan tentu saja buku-buku fiksi.
Buku-buku fiksi memang diciptakan untuk memberikan hiburan bagi pembacanya. Namun, buku fiksi bukanlah sesuatu yang kosong, hanya imajinasi pengarang. Di dalam buku fiksi sering pula mengandung pembelajaran/hikmah bagi pembacanya. Memang, dalam menyampaikan pembelajaran ini buku fiksi tidak mengungkapkannya secara langsung, tetapi melalui alur cerita dan tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Bagaimana tokoh-tokoh tersebut menjalani sebuah ’model’ kehidupan dengan berbagai ragam permasalahannya sekaligus pemecahannya.
Buku fiksi seringkali menjadi sebuah ’miniatur’ juga ’cermin’ kehidupan yang sesungguhnya. Dari buku fiksi inilah pembaca dapat belajar menjalani kehidupan, sebagaimana yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Misalnya saja, bagaimana menjadi guru seperti Bu Mus dalam Laskar Pelangi? Menjadi pemuda yang bersungguh-sungguh dalam meraih cita-cita sebagaimana Alif dalam Negeri 5 Menara? Dan masih banyak lagi. Hikmah yang disampaikan melalui cerita seringkali lebih mengena di hati daripada yang disampaikan secara langsung. Sebagaimana kebiasaan orang tua dulu yang memberikan petuah lewat cerita atau dongeng sebelum tidur.
Membaca buku dapat membuka wawasan pikiran dan menggugah perasaan pembacanya, sehingga pikiran dan hati pembaca juga akan semakin kaya. Bila pembaca bisa menikmati buku yang dibaca serta dapat mengambil ’sesuatu’ yang ada di dalamnya, bukankah hal itu dapat menjadi rekreasi yang menyenangkan? Ah, seandainya masyarakat kita menjadikan buku sebagai tempat rekreasi dalam kehidupannya, maka dapat dibayangkan bagaimana kualitas masyarakat kita. Bagaimana dengan Anda? Salam.###
Kartun Peduli Bahasa Indonesia
sumber gambar: Kompas Minggu, 4 Desember 2011
Kartun di atas menggambarkan sebagian besar sikap dan perilaku masyarakat Indonesia terhadap bahasa Indonesia. Kartun tersebut tentunya hadir sebagai bentuk keprihatinan pembuatnya ketika melihat sikap dan perilaku masyarakat Indonesia terhadap bahasa Indonesia. Melalui kartun tersebut, pembuatnya ingin menyentil dan mengajak pembaca untuk merenung, siapa lagi yang mau menggunakan dan melestarikan bahasa Indonesia kalau bukan masyarakat Indonesia sendiri?
Sudah semestinya masyarakat Indonesia membiasakan diri untuk menghargai dan memiliki kebanggaan terhadap bahasanya sendiri. Indonesia hampir kehilangan segala-galanya akibat perilaku masyarakatnya sendiri. Dan bukan tidak mungkin juga akan kehilangan bahasanya bila masyarakat Indonesia tidak mengubah sikap dan perilakunya. Mari selamatkan bahasa Indonesia, sebelum terlambat. Salam.##







