Perahu Kertas
PERAHU KERTAS 2
perahu kertas masih terapung
setia mengalir mengikuti gerak air
mengusung mimpi dan harapan
dalam resah pengembaraan
sesekali tubuh rapuhnya berguncang
dimainkan riak dan gelombang
sampai kapankah ia akan melaju
menembus denyut waktu
meski langit tak selamanya biru
madiun,3des09
____________________________________________________________________
PERAHU KERTAS 1
perahu kertas masih terus berlayar
mengalir, mengikuti alur air
meski ia sendiri tak pernah tahu
seberapa panjangkah perjalanan
yang musti ia tempuh
akankah ia sampai pada suatu tujuan
ataukah karena kerapuhannya
ia akan koyak bahkan lumat
oleh air yang membawanya
hingga ia pun tak pernah sempat
menyelesaikan perjalanannya
madiun, 19nov2009
MENULIS PANTUN
MENGASAH KEPEDULIAN SOSIAL SISWA
MELALUI KEGIATAN MENULIS PANTUN
Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama yang paling akrab dengan masyarakat dibandingkan dengan bentuk puisi lama yang lain. Pemakaian pantun pun dirasa paling luas di kalangan masyarakat. Pantun dapat dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan dan disampaikan dalam sembarang waktu, dalam kegiatan apa pun, dan dilakukan oleh siapa pun juga. Pantun pada gilirannya paling banyak diminati oleh masyarakat tanpa terikat oleh status sosial, agama, dan usia.
Pantun menjadi sarana yang efektif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Pantun dapat digunakan sebagai alat komunikasi, untuk menyelusupkan nasihat atau wejangan, atau bahkan untuk melakukan kritik sosial, tanpa mencederai perasaan siapa pun. Mengingat pantun tidak terikat oleh batas usia, status sosial, agama atau suku bangsa, maka pantun, dapat dihasilkan atau dinikmati semua orang, dalam situasi apa pun, dan untuk keperluan yang bermacam-macam sesuai kebutuhan. Bahkan banyak lirik lagu yang menyisipkan pantun di dalamnya.
LOMBA UNTUK GURU
Rekan-rekan Guru se-Indonesia, kali ini Lembaga Pendidikan dan Pelatihan MAGISTRA UTAMA (MU) kembali mengadakan Lomba Karya Tulis Guru Kreatif (LKTGK) 2009/2010 untuk guru SLTA se-Indonesia.
LOMBA KARYA TULIS GURU KREATIF
BERBASIS PENGALAMAN EMPIRIK
Pengajaran dan Pembelajaran Inovatif;
Memaksimalkan Potensi Siswa untuk Mencapai Prestasi Puncak
Syarat-syarat Lomba:
Ulasan Novel
MEMBONGKAR KETIDAKADILAN KEKUASAAN PRIYAYI
DALAM MASYARAKAT TRADISIONAL JAWA
(Ulasan terhadap novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer)
/1/
Sastra merupakan cermin masyarakat. Keberadaan karya sastra memang tidak lepas dari masyarakat dan kenyataan sosial di sekelilingnya. Karya sastra dapat hadir sebagai refleksi dari realitas sosial dan refleksi kesejarahan yang terjadi di masyarakat. Memang, sastra sebagai refleksi dari kenyataan masyarakat rasanya sulit diingkari kebenarannya, sebab seorang sastrawan tidak mungkin hidup terasing dari masyarakatnya, sehingga ia tidak buta dan tuli terhadap segala peristiwa yang terjadi di masyarakatnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Goldmann bahwa karya sastra diciptakan oleh pengarang sebagai hasil dari sebuah proses merespons situasi lingkungan dan sosialnya (dalam Teeuw, 1984: 103). Oleh karena itu, karya sastra yang besar akan mampu mengidentifikasikan kecenderungan-kecenderungan sosial yang penting pada zamannya sehingga bisa mencapai ekspresi yang padu dengan realita.
Meski karya sastra menampilkan realita sosial, karya sastra tidak lahir begitu saja. Karya sastra lahir dari hasil kreativitas, pergulatan antara realitas dan imajinasi pengarang. Dengan imajinasinya pengarang ingin mewujudkan kembali sederetan pengalaman-pengalaman tertentu yang pernah akrab dengan lingkungan dan kehidupannya. Adanya karya sastra yang berangkat dari realitas, paling tidak bisa memberikan penceritaan kepada masyarakat tentang sesuatu yang pernah terjadi pada masa tertentu.
Lomba Menulis Cerpen
PETUNJUK PELAKSANAAN
LOMBA CIPTA CERPEN REGIONAL 2009
HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
LATAR BELAKANG
Perkembangan sastra dari tahun ke tahun semakin meningkat. Salah satu yang mendasari hal itu tesebut adalah semakin tingginya kalangan pelajar maupun mahasiswa yang menikmati karya sastra, baik berupa fiksi atau non fiksi yang salah satunya yakni cerpen. Hal ini sudah menjadi makanan keseharian pelajar maupun mahasiswa.. Tidak sulit untuk mendapatkan cerpen karena di majalah-majalah apapun kebanyakan terdapat cerpennya, di koran dan banyak kumpulan cerpen yang sudah disatukan sebagai buku.
Cerita dalam cerpen relatif singkat, relatif ringan tapi tetap menarik. Meskipun begitu, perlu daya imajinasi yang lebih untuk menghasilkan karya sastra yang bermutu dan teknik-teknik pembuatnya juga perlu diperhatikan.
Kini, banyak bermunculan penulis muda berbakat yang mewarnai media cetak dengan karya terbaik yang telah dilahirkan. Semua hal itu tak lepas dari seringnya menulis, membaca, mencoba hal baru dengan usaha yang tak pantang menyerah.
Itulah sebabnya, HMJ Sastra Indonesia merasa perlu mengadakan suatu kegiatan yang yang bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakat para penulis muda, baik dari pelajar atau juga mahasiswa. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) 2009 yaitu Lomba Cipta Cerpen Regional (LCCR) dengan tema “Menjelajahi Jejak Kearifan Lokal Indonesia Melalui LCCR 2009”.
KALIMAT YANG BERNALAR
Kalimat pada hakikatnya adalah satuan bahasa terkecil yang dipakai dalam berkomunikasi. Komunikasi itu sendiri setidaknya melibatkan pihak pertama dan pihak kedua. Komunikasi akan berjalan dengan baik apabila yang hal disampaikan oleh pihak pertama dapat diterima dengan “utuh” oleh pihak kedua.
Untuk mencapai tujuan itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah informasi yang disampaikan oleh pihak pertama harus menggunakan kalimat yang bernalar (logis). Syarat ini mutlak dipenuhi, karena jika tidak , informasi yang diterima pihak kedua dapat saja salah atau justru informasi sebaliknya yang tertangkap.
Berikut ini beberapa kalimat yang kebanyakan tidak disengaja disampaikan dengan penalaran yang salah.
MAHAL ATAU PELIT?
Sudah kita ketahui bersama bahwa buku merupakan sumber ilmu. Banyak hal baru yang dapat kita peroleh dengan membaca buku. Namun, masih banyak orang yang belum menjadikan membaca sebagai kegiatan utama dalam kehidupannya. Hal ini terlihat tidak hanya pada masyarakat umum, tetapi bahkan di kalangan pelajar. Di ruang-ruang tunggu, kendaraan, dan tempat-tempat umum lain, sangat jarang kita jumpai orang yang asyik berkutat dengan buku. Mereka akan lebih suka menghabiskan waktu dengan ngobrol atau merokok.
Kebiasaan membaca memang belum mendarah daging pada masyarakat kita. Hal ini diperparah oleh gebyar tayangan televisi, juga perkembangan perangkat IT yang memanjakan seseorang dengan berbagai fasilitas yang hanya bersifat hiburan, seperti game, facebook, dsb. Belum lagi bila harus membeli sendiri buku yang akan dibaca. Dengan penduduk 220 juta lebih, kemauan membeli buku nyaris seperti debu. Begitu kecilnya. Alasan klasik yang selalu dilontarkan seseorang ketika enggan membeli buku adalah mahalnya harga buku. Padahal, jika kita mau jeli banyak toko-toko buku atau pameran-pameran buku yang menyediakan buku-buku dengan potongan khusus (diskon), sehingga harga buku menjadi lebih terjangkau.
Tapi, benarkah harga buku mahal? Sehingga membeli buku harus selalu tersingkir dari daftar kebutuhan? Padahal, bila diamati, pola hidup masyarakat kita sangat konsumtif untuk hal lain. Sebut saja untuk mendapatkan tiket konser artis yang harganya ratusan ribu, mereka akan dengan ringan mengeluarkan uang. Juga untuk jalan-jalan ke mal, ke salon, nongkrong di kafe, membeli kaset, membeli pulsa, bahkan membeli HP dengan model mutakhir, membeli baju, sepatu, rokok, dsb. Untuk hal-hal tersebut seringkali masyarakat kita begitu royal. Padahal, jika dilihat nominalnya kebutuhan tersebut tentu lebih besar biayanya daripada harga sebuah buku. Tapi mereka selalu ada uang untuk semua itu. Sementara untuk membeli buku, mereka tiba-tiba merasa miskin, sehingga uang yang kadang tidak sampai seratus ribu sangat sayang bila harus dikeluarkan/digunakan untuk membeli buku. Jika demikian, penulis ingin menanyakan, harga buku yang mahal atau memang kita yang pelit? Jawabannya berpulang pada diri Anda masing-masing. **** (bektipatria2009)
PENGAJARAN APRESIASI PUISI DI SEKOLAH
Puisi bukanlah sesuatu yang baru bagi kita semua. Namun, bukan rahasia lagi bahwa bagi sebagian siswa – seperti yang dialami penulis – baru mendengar kata ’puisi’ langsung terbayang sesuatu yang sulit, sesuatu yang tidak terjangkau. Mereka sepertinya ingin sedapat mungkin menghindar, atau tidak usah bertemu dengan yang namanya ’puisi’. Hal ini bahkan tidak saja terjadi pada siswa, tetapi juga pada guru bahasa Indonesia. Terlebih jika dikaitkan dengan kegiatan apresiasi. Padahal, kegiatan apresiasi puisi tidak dapat dihindari dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia karena memang ada dalam kurikulum sekolah. Lalu apa yang harus diketahui dan dilakukan guru agar pengajaran apresiasi puisi di sekolah dapat berjalan dengan baik sesuai harapan?
REFLEKSI DIRI BAGI ANAK NEGERI
Menyebut Indonesia rasanya ada yang bergetar di rongga dada. Demikianlah semestinya kita semua sebagai warga Indonesia. Terlebih saat ini, saat Indonesia tak henti-hentinya diterjang prahara. Mulai dari krisis berkepanjangan, bencana alam (lumpur lapindo), ancaman teroris, dan sebagainya. Siapa lagi yang akan menyelamatkan Indonesia, jika bukan kita sendiri, yang insyaallah lahir, hidup, dan mati di bumi Indonesia ini.
Berbicara tentang Indonesia, seperti kita dengar dari nenek moyang kita bahwa Indonesia adalah negeri yang indah, masyur, dan kaya-raya, sehingga tak heran banyak bangsa yang menginginkannya. Sebagai negeri kepulauan yang besar, Indonesia tampah indah dengan ribuan pulau yang dikelilingi oleh pantai dan lautnya. Indonesia masyur karena keramahan budi dan bahasa warganya. Indonesia kaya-raya akan kekayaan alam dan keragaman budayanya. Lalu, sedalam apakah kita – generasi sekarang – mencintai atau peduli dengan Indonesia?
Baca selebihnya »
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
-
Arsip
- Desember 2009 (1)
- November 2009 (1)
- Oktober 2009 (5)
- September 2009 (3)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
