Hardiknas: Momentum untuk Introspeksi
Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei. Penetapan tanggal peringatan ini menunjukkan kesadaran bangsa Indonesia tentang pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa. Semua tentu sepakat apabila pendidikan menjadi salah satu kunci kemajuan dan keberlangsungan sebuah bangsa. Kontribusi dan peran pendidikan tetap menjadi salah satu faktor terpenting bagi keberadaan sebuah bangsa.
Seiring perjalanan waktu, hingga kini, kenyataannya masih banyak persoalan yang membelit pendidikan Indonesia. Mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan sistem pendidikan, seperti kurikulum, penyelenggaraan Ujian Nasional, RSBI, dan sebagainya. Demikian pula dengan persoalan yang berkaitan dengan guru yang merupakan salah satu elemen penting penentu keberhasilan pendidikan. Masalah-masalah guru tersebut anatara lain kualitas guru, kesejahteraan, juga penyebarannya. Masalah yang juga masih menghantui dunia pendidikan di Indonesia adalah sarana dan prasarana, di antaranya masih banyak bangunan sekolah yang rusak, bantuan untuk siswa miskin, ketersediaan buku, terutama di daerah pelosok.
Kita tidak perlu menghabiskan banyak energi untuk mencari kambing hitam atas buruknya wajah pendidikan bangsa. Adalah hal yang wajar jika suatu sistem perlu dilakukan evaluasi secara berkala. Evaluasi ini tentunya bertujuan untuk meningkatkan kinerja sistem berdasarkan faktor-faktor penghambat atau kendala yang ada. Misalnya dengan menyusun langkah strategis, terukur, dan terarah secara baik untuk membenahi kekurangan-kekurangan sambil terus berusaha meningkatkan capaian prestasi yang sudah ada.
Pemerintah sebagai aparatur pembuat regulasi harus mengkaji semua aspek pendidikan dalam membuat kebijakan. Perubahan sistem (kurikulum) pendidikan harus memperhatikan standar fasilitas pendidikan yang ada di seluruh penjuru tanah air. Pemerataan pembangunan sarana infrastruktur menjadi hal mutlak dilakukan dalam rangka meminimalisir kesenjangan yang ada sehingga dapat mengurangi kecemburuan sosial.
Demikian juga dengan perbaikan kualitas guru. Kualitas peserta didik sangat ditentukan oleh kualitas guru yang mengajar sehingga perlu ada upaya peningkatan kualitas pendidik (guru) secara berkala. Perlu ditekankan bahwasanya guru tidak hanya berperan sebagai pengajar. Akan tetapi yang lebih penting adalah mendidik. Hal ini terkait dengan pendidikan karakter yang telah dicanangkan pemerintah. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga harus mampu mentransfer nilai-nilai luhur yang dapat menajdi bekal peserta didik dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, guru harus mampu memberikan teladan baik bagi peserta didiknya.
Institusi pendidikan sebagai lembaga penyelenggara pendidikan juga perlu mengevaluasi dan meningkatkan kinerja secara internal. Ciptakan hubungan yang baik antara sesama guru pengajar, guru, dan peserta didik. Bahkan, antar sesama peserta didik. Guru yang baik adalah guru yang peka terhadap permasalahan yang dihadapi peserta didiknya. Dengan pelayanan dan hubungan yang baik siswa akan merasa nyaman dalam belajar sehingga target transfer ilmu yang diharapkan dapat terpenuhi.
Meski demikian, kita tidak perlu terlampau pesimis menghadapi berbagai masalah dan kendala yang ada. Sebab, masih banyak pelajar yang bersungguh-sungguh untuk mengikuti pendidikan di negeri ini. Masih ada guru-guru yang senantiasa bersemangat untuk memberikan ilmu yang ia miliki secara ikhlas. Masih banyak orang tua yang sangat mendukung program pendidikan pemerintah. Masih banyak masyarakat yang peduli terhadap pendidikan dengan mengelola kegiatan pendidikan nonformal.
Melalui momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, kita dapat kembali merenungkan betapa pentingnya pendidikan untuk mencerdaskan bangsa. Bangsa cerdas lahir dari pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas akan terwujud jika ada kepedulian semua pihak. Salam.##
Hari Buku: Semoga Tak Menjadi Sebatas Peringatan
Tanggal 23 April ditetapkan UNESCO sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day). Sayangnya, gaung peringatannya selalu kalah pamor dengan peringatan hari lainnya, terutama di Indonesia. Lain halnya dengan Hari Buruh, Hari AIDS, atau Hari Valentine. Saat peringatan Hari Buruh pengerahan massa besar-besaran seringkali mewarnai peringatannya. Saat peringatan Hari AIDS, beberapa aktivis aktif berkampanye di tempat-tempat umum dengan membagi-bagikan sesuatu. Demikian pula saat peringatan Valentine, orang bahkan jauh-jauh hari melakukan persiapan untuk menyambutnya. Namun, di hari buku, adakah orang yang menyiapkan sekadar bingkisan berupa buku untuk dibagikan kepada orang-orang terdekat? Sepertinya memang hampir tak pernah ada. Bahkan kapan peringatannya pun barangkali tak pernah dihafal.
Hari Buku yang ditetapkan UNESCO sejak tahun 1995 lalu bertujuan untuk mengkampanyekan agar masyarakat menyenangi kegiatan membaca buku. Hal ini didasarkan kenyataan yang tak dapat dimungkiri bahwa buku merupakan sumber ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, semakin banyak membaca buku, pengetahuan seseorang akan semakin baik dan luas. Bahkan dalam Islam, perintah pertama yang diturunkan berbunyi iqra’ yang artinya ‘bacalah’. Dengan banyak membaca akan dapat menguasai dan membangun peradaban dunia.
Di masyarakarat kita, slogan ”buku adalah gudang ilmu” atau ”buku adalah jendela dunia” memang sudah sangat akrab di telinga. Namun, sejauh manakah masyarakat telah mampu memaknai dan mengimplementasikan makna slogan tersebut? Ya, bukan rahasia lagi bila penyakit malas baca buku telah lama menjangkiti masyarakat kita, tak terkecuali generasi muda. Yang lebih memprihatinkan lagi, kegiatan membaca yang belum sempat menjadi kebiasaan, kini justru semakin terkikis dengan derasnya arus perkembangan teknologi. Tawaran games, facebook, film; merupakan media visual yang bagi sebagian orang lebih menarik. Hal ini dapat dilihat pada generasi sekarang yang memang akan tahan berjam-jam membaca SMS atau BlackBerry Messeger (BBM). Namun, jangan tanya ketahanan mereka untuk membaca buku.
Hingga saat ini, masyarakat kita memang belum menjadikan membaca buku sebagai suatu kebutuhan. Membaca buku masih selalu tersingkir dari kebutuhan-kebutuhan lain. Padahal, kegiatan membaca sesungguhnya memiliki banyak manfaat. Di antaranya, dengan membaca otak bisa bekerja dengan baik. Informasi yang diperoleh dapat lebih lama disimpan dalam otak daripada mendengar atau melihat saja. Dengan aktivitas membaca, seseorang dapat mengembangkan imajinasi dan daya pikirnya dari informasi yang diperolehnya. Akhirnya, kemampuan daya nalar dan kreativitas seseorang dapat terus berkembang dan memiliki kemampuan daya pikir jauh lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak senang membaca.
Kebiasaan membaca juga bisa mendorong seseorang untuk menulis. Sebab, dengan banyak membaca, seseorang dapat terdorong untuk mengkomunikasikan pengetahuan yang diperolehnya ke dalam bentuk tulisan. Kenyataannya, masyarakat kita lebih senang menonton daripada membaca dan menulis. Akibatnya, daya dan potensi otak tidak berkembang secara kritis.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang dibangun oleh masyarakat yang cerdas. Oleh karena itu, peringatan Hari Buku kali ini hendaknya dapat menjadi momentum penyadaran bagi diri kita untuk mencintai buku. Agar bangsa yang besar, maju, cerdas dan berperadaban tinggi tak sekadar menjadi sebatas angan-angan. Salam.##
Jelang Ujian Nasional 2012
Ujian Nasional (UN) tinggal hitungan hari. Dimulai Ujian Nasional tingkat SMA/MA/SMK, yang dilaksanakan tanggal 16 sampai dengan 19 April 2012 ini, dilanjutkan dengan Ujian Nasional tingkat SMP/MTs, dan ditutup dengan UASBN tingkat SD/MI.
Sebagai Ujian Akhir, sekaligus berperan sebagai penentu kelulusan, Ujian Nasional (UN) sering dipandang sebagai momok yang menyeramkan. Tidak saja bagi peserta didik, tetapi juga bagi guru dan orang tua. Persiapan pun dilakukan sejak jauh-jauh hari, bahkan peserta didik baru menginjak jenjang kelas akhir. Semua pihak tentu saja menginginkan yang terbaik.
Di saat hari H Ujian Nasional kian mendekat, ada beberapa hal yang tidak dapat diremehkan, bahkan musti juga diperhatikan oleh peserta didik. Di antaranya sebagai berikut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan menjelang Ujian Nasional
- Siapkan materi. Hal ini tentu sudah dilaksanakan jauh-jauh hari. Dengan belajar maksimal tentu materi ujian semakin dikuasai.
- Siapkan fisik. Penguasaan materi tidak ada artinya tanpa fisik yang prima. Oleh karena itu, menjaga kesehatan sangatlah penting. Termasuk di dalamnya menjaga makanan. Tidak mengonsumsi makanan yang dapat menimbulkan gangguan fisik, misalnya makan terlalu pedas, dan sebagainya.
- Istirahat dan tidur yang cukup. Menjelang hari H, belajar hendaknya tidak lagi terlalu diforsir dan sampai larut malam. Cukup membuka-buka materi sepintas untuk mengingat hal-hal yang pernah dipelajari. Tidur larut dapat membuat kondisi lemah saat mengerjakan ujian keesokan harinya.
- Siapkan segala perlengkapan dan nomor ujian. Alat tulis yang digunakan untuk ujian hendaknya dimiliki sendiri. Tidak meminjam teman saat ujian berlangsung.
- Siapkan mental. Persiapan mental dapat dilakukan dengan senantiasa berdoa kepada Tuhan. Selain itu, mohon doa restu pada orang tua dan guru. Doa serta restu orang tua dan guru akan memberi ketenangan jiwa saat mengerjakan ujian.
Melihat Sisi Lain Demonstrasi dari Cerpen
Beberapa hari terakhir ini, pemberitaan di tanah air, baik media cetak maupun elektronik diwarnai oleh maraknya demonstrasi menolak rencana kenaikan BBM. Para demonstran, yang sebagian besar mahasiswa, berusaha mendesak pemerintah untuk membatalkan kenaikan BBM yang rencananya akan diberlakukan mulai 1 April 2012 ini. Para demonstran menganggap atau menjadikan diri mereka sebagai pembawa suara rakyat yang selama ini memang selalu menjadi korban kebijakan pemerintah. Sehingga demonstrasi yang mereka lakukan seringkali mengatasnamakan rakyat.
Memang bukan hal baru, bila masyarakat (mahasiswa) menggunakan demonstrasi sebagai cara untuk menyuarakan aspirasi mereka. Bahkan sejarah bangsa ini telah mencatat bahwa demonstrasi (mahasiswa) benar-benar telah membawa pengaruh besar pada alur perjalanan bangsa Indonesia, yaitu sekitar tahun 1966 dan 1998. Namun, melihat perkembangan demonstrasi akhir-akhir ini, barangkali kita juga merasa jengah, prihatin, bahkan miris. Sebab, tak jarang demonstrasi-demonstrasi tersebut diwarnai dengan tindakan anarkis yang merugikan banyak pihak, termasuk rakyat sendiri. Alih-alih menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru.
Pada tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai berbagai tindakan anarkis dalam demonstrasi yang dilakukan para mahasiswa tersebut. Namun, saya ingin mengajak pembaca melihat demonstrasi dari sisi yang lain, yaitu melalui sebuah cerpen karya Agus R. Sarjono yang berjudul ”Prajurit Jatiman” (dimuat dalam Horison XXXV/2/2002). Cerpen itu sendiri bertanggal 23 Maret 2001. Isi cerpen ini memang berkaitan dengan demonstrasi mahasiswa. Juga pertentangan antara mahasiswa dan aparat yang seringkali mewarnai sebuah demonstrasi.
Cerpen ”Prajurit Jatiman” ini menampilkan kisah seorang aparat berpangkat prajurit yang bernama Jatiman. Sebagai seorang Prajurit, gaji Jatiman sangat kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di kota besar. Bahkan tidak sampai dua minggu gajinya sudah habis. Hutang mereka pun menumpuk di sana-sini. Hal itulah yang membuat istri Jatiman sering uring-uringan sehingga mendesak Jatiman untuk mencari penghasilan tambahan.
Istrinya marah-marah kurang belanja, mengeluh panjang-pendek soal kenakalan anak yang susah di atur seperti setan. Utang di sana-sini, tukang kredit, koperasi, warung, baju yang sudah lusuh dan bikin malu dan bikin bingung untuk dipakai kondangan perkawinan anak komandan, bingung bajunya dan bingung kadonya.Namun, Jatiman menolak karena pekerjaan tambahan itu tidak sejalan dengan nuraninya. Yaitu menjadi pendamping (backing) tukang karcis di loket stasiun, loket pertunjukan, bahkan perjudian. Pekerjaan sebagai backing tersebut memang sangat mudah mendapat uang suap ketika ada orang yang berusaha masuk secara illegal. Bagi Jatiman, pekerjaan seperti itu sama saja menghancurkan martabatnya sebagai tentara yang sejak kecil memang dibanggakan dan dicita-citakannya.
Kehidupan Jatiman yang serba susah membuatnya jadi serba salah, hatinya pun semakin gelisah. Barak yang sempit, udara panas, istri yang uring-uringan, latihan berat, kemarahan komandan, serta tugas-tugas atasan, membuat hati dan pikirannya semakin tertekan. Hingga keesokan harinya, ketika Jatiman harus berangkat kerja tak tersedia sarapan untuknya, karena memang tak ada lagi yang bisa dimasak. Dan hari itu Jatiman harus bertugas mengamankan demonstrasi mahasiswa. Di bawah terik matahari Jatiman berupaya melaksanakan tugas dengan baik, meskipun beberapa kali Jatiman menerima lemparan batu dari para demonstran. Namun, setelah berjam-jam berdiri di bawah terik matahari yang kian memanggang, perutnya yang kian berteriak lapar, juga tekanan masalah-masalah di rumah, Jatiman tiba-tiba kalap setelah mendapat lemparan batu yang kesekian. Jatiman memukuli mahasiswa. Berbagai stasiun televisi pun memberitakannya. Jatiman akhirnya ditangkap, dimasukkan sel, bahkan dipecat karena dianggap mencemarkan nama baik militer.
Melalui cerpen ini, Agus R. Sarjono berusaha mengajak pembaca melihat sisi lain dari sebuah peristiwa demonstrasi yang selama ini tak pernah terjamah oleh pemberitaan media. Agus R. Sarjono berusaha mengangkat sisi kemanusiaan seorang aparat melalui tokoh Prajurit Jatiman. Selama ini, pembaca (barangkali termasuk kita) selalu memandang negatif sikap aparat dalam sebuah aksi demonstrasi. Bahkan pemberitaan media massa pun menguatkan sikap negatif tersebut. Aparat seringkali berada pada pihak yang salah ketika terjadi peristiwa anarkis dalam sebuah demonstrasi. Padahal, sebagaimana kalimat iklan ”prajurit juga manusia”, sehingga aparat (prajurit) harus dipahami sebagai manusia yang memiliki berbagai problem, memiliki cita-cita, bisa marah, bisa gundah, bisa menentang hal yang tidak sesuai dengan nuraninya, dan sebagainya.







