Pendidikan yang Humanis dari Anies Baswedan

Anies Baswedan memang kini tak lagi menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan setelah Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinetnya pada 27 Juli 2016 lalu. Banyak pihak yang kaget dan tidak menduga, karena menganggap menteri yang berpenampilan selalu santun dan murah senyum ini sudah tepat menjalankan tugas dan fungsinya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi, itulah kenyataannya. Menteri baru telah ditunjuk Presiden Jokowi untuk menggantikan posisinya.

Selama 20 bulan masa kepemimpinannya di Kemendikbud, sesungguhnya ada berbagai terobosan dan gebrakan yang dilakukan Anies. Yang paling banyak dirasakan oleh masyarakat adalah upaya Anies Baswedan dalam mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia atau pendidikan yang humanis. Anies mencoba mengembalikan ruh kemanusiaan dalam jiwa pendidikan nasional. Anies memandang bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia, baik dari sisi guru maupun peserta didiknya.

Tentu kita belum lupa, salah satu hal yang lekat dengan Anies Baswedan adalah semangatnya membumikan kembali ajaran Ki Hajar Dewantara. Dikatakannya, bahwa para guru harus belajar dari filosofi yang digagas bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara, menamakan lembaga pendidikannya Taman Siswa yaitu tempat yang penuh kebahagian dan menyenangkan karena anak butuh bermain. Pendidikan di Indonesia harus adiktif atau membuat anak ketagihan ingin kembali belajar. Karena kita akan senang kalau anak mengatakan semoga besok cepat datang agar bisa ke sekolah, bukan berkata semoga besok sekolah tidak ada. Sebuah sekolah – apapun bentuknya – seharusnya mampu membentuk akal dan budi manusia agar menjadi insan-insan yang luhur dan efektif, serta bermakna bagi lingkungannya.

Dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang humanis, Anies juga mengusung sekolah berintegritas. Hal ini didorong oleh keprihatinannya melihat ketidakjujuran di lingkungan sekolah, khususnya berkaitan dengan Ujian Nasional. UN yang selama ini menjadi penentu kelulusan telah menciptakan berbagai ekses. Yang paling menonjol tentunya mendorong ketidakjujuran. Anies berupaya mengembalikan UN pada kedudukan dan fungsinya, yaitu memotret capaian pendidikan yang sesungguhnya. Dan, pada masa jabatannya, Anies menghapus syarat UN sebagai penentu kelulusan. Ia mengusung indeks integritas Ujian Nasional (IIUN) sebagai parameter yang membanggakan sekolah dan daerah. Sekolah dengan IIUN tinggi diberi piagam sebagai bukti bahwa sekolah itu berikhtiar menjunjung kejujuran dalam penyelenggaraan UN.

Dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang maju, Anies juga membentuk Direktorat Pendidikan Keluarga. Hal ini dimaksudkan bahwa keluarga juga harus turut bertanggung jawab atas keberhasilan pendididkan putra putrinya. Bahkan Anies juga membuat gebrakan mengenai kewajiban orangtua untuk mengantar anaknya pada hari pertama masuk sekolah.

Anies juga mencanangkan Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti. Hal ini didorong oleh keinginannya untuk membangun dan memperbaiki moral bangsa yang saat ini banyak terdegradasi oleh pengaruh-pengaruh negatif, baik dari dalam mupun luar negeri. Meski pendidikan karakter ini bukan hal baru, tetapi Anies lebih menekankannya sebagai gerakan sehingga hingar bingarnya cukup terasa. Khususnya, mengenai karakter nasionalisme Anies mewajibkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum memulai pelajaran.

Menjelang akhir masa jabatannya, Anies mencanangkan masa orientasi peserta didik baru yang bebas dari kekerasan. Hal ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, terutama orangtua. Masa orientasi peserta didik baru selama ini menjadi ajang perploncoan senior kepada yuniornya. Bibit-bibit kekerasan sering muncul pada kegiatan tersebut. Hal ini akan terus terjadi jika rantai tidak diputus.

Khusus bagi guru, Anies menempatkan guru sebagai sosok yang mulia karena guru adalah ujung tombak pendidikan. Dalam berbagai kesempatan Anies terus memotivasi dan memompa semangat guru untuk secara total mengabdi mencerdaskan anak-anak bangsa. Anies mengatakan bahwa menjadi guru bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan pelukis masa depan. Menjadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan sebuah penghormatan. Guru adalah pembuat sejarah, dan sebagainya. Anies juga mendorong guru untuk selalu berkarya, guru mulia karena karya. Karya guru yang paling Nampak adalah terciptanya generasi muda bangsa yang cerdas dan berkarakter mulia.

Hal-hal yang dilakukan oleh Anies adalah upayanya dalam menciptakan pendidikan humanistik, yaitu pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai inilah yang saat ini banyak tercerabut dalam jiwa bangsa Indonesia. Dengan gayanya yang khas, Anies selalu mengingatkan untuk memanusiakan peserta didik dan memanusiakan guru. Pendidikan humanistik adalah sebuah konsep pendidikan yang berupaya menyentuh hati manusia sebagai upaya untuk menanamkan karakter atau budi pekerti yang baik. Hati hanya bisa disentuh dengan hati, dan ketulusan hati seorang guru dalam mengajar akan sangat berdampak terhadap perkembangan belajar peserta didik.

Kini, Anies Baswedan memang tak lagi menjabat sebagai Mendikbud. Namun, upaya-upaya berharga yang telah dirintisnya ada baiknya untuk terus dilanjutkan demi mewujudkan pendidikan nasional yang bermartabat.

Iklan

Mengajar Itu Seni

hardiknas2016q

Tidak semua nasihat harus diucap lewat kata. Karena ada beberapa nasihat yang jika diucapkan, akan terasa menyayat dan menyakitkan. Guru yang bijak tahu persis akan hal itu. Karenanya, ia menyisipkan banyak nasihat dalam laku. Kadang pada diamnya, kadang pada teladannya, terkadang pada ketakpedulian atau kecuekannya. Dan yang tak lazim, bahkan nasihat terkadang diberikan dengan kesengajaannya berbuat salah. Agar sang murid melihat dengan cara yang tepat sesuai konteksnya. Agar sang murid berakal dan menggunakan akalnya. Agar sang murid mengerti dengan hati dan paham sampai menembus nurani.

Di mata murid arogan. Guru yang semacam itu disebut guru yang tidak perhatian atau bahkan dianggap sebagai guru yang tidak pantas dan tidak pas. Namun, di mata murid yang siap belajar, yang demikian adalah nasihat paling santun yang akan dikenang kelak saat keberhasilan sudah di tangan.

Mengajar dan belajar adalah seni. Seni untuk saling mengerti dan saling memahami. Seperti rasa cinta 2 sejoli yang tak ingin kata-kata menjadi pengganggu saat berdua. Karena kadang, diam asal bersama adalah sebuah keromantisan.

Mengajar bukanlah sebuah kegiatan yang memiliki hubungan pasti antara subjek dan objek. Mengajar adalah sebuah seni dengan guru menjadi senimannya. Melalui mengajar, ia mengekspresikan kepribadiannya, dan para siswa adalah “hasil karya seni manusiawi” yang sifatnya tidak statis. Sama seperti kesenian, mengajar juga memberi kesempatan kepada guru untuk menjadi jujur kepada dirinya.

Mengajar merupakan sesuatu yang pribadi, yang tidak dapat digantikan begitu saja. Mengajar itu melibatkan guru sebagai sosok yang menyeluruh, bukan hanya sebagai seseorang yang mencoba menyampaikan sepotong pengetahuan.

Tak salah jika pepatah lama yang mengatakan “Guru akan muncul saat muridnya sudah siap”. Bukan berarti kala murid tak siap tak ada guru yang bisa dilihat. Guru ada, guru terlihat. Hanya saja, murid yang tak siap hanya akan melihat guru sebagai profesi. Seorang yang dibayar dan punya nama sebutan seperti profesor, mentor, motivator, dan sebagainya.

Sedangkan murid yang siap, akan mampu melihat guru sebagai pelita bagi kehidupannya. Mungkin tidak bergelar profesi, mungkin hanya sekedar guru kampung yang mengajar mengaji. Meski begitu, lautan ilmu kehidupannya seolah tak bertepi.

Akhirnya, yang belajar tak mengenal bosan karena ilmu semakin dalam. Yang mengajar tak kehabisan bahan, karena kehidupan masih menyisakan banyak hal untuk diolah dalam kajian hikmah. Hal paling penting dan utama menjadi guru ialah kecintaan dan semangat yang terus-menerus (passion) untuk menyampaikan ilmu sehingga dapat melahirkan pribadi-pribadi yang luhur.

Inilah sejatinya peran guru-guru kehidupan. Sudah sedikit memang jumlahnya. Namun, beliau-beliau masih ada. Menanti murid-murid yang siap untuk mengambil ilmu, lengkap dengan keberkahannya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Nyalakan pelita, terangkan cita-cita.*

Gonjang-ganjing Kurikulum 2013

kurikulum-2013Pergantian Kurikulum 2006 ke Kurikulum 2013 tampaknya paling ribut dibandingkan dengan pergantian kurikulum sebelum-sebelumnya. Meski sudah berjalan satu setengah tahun (3 semester), rupanya gonjang-ganjing Kurikulum yang lahir menjelang akhir masa pemerintahan Presiden SBY ini belum juga reda. Bahkan kian hari kian ramai diperbincangkan.

Pada awal diberlakukannya di sekolah-sekolah sasaran pada tahun pelajaran 2013/2014, sekolah, guru, serta siswa sudah dibuat kalang kabut. Perubahan struktur kurikulum, proses pembelajaran, serta model penilaian yang kompleks menjadi akar kebingungan itu. Pelatihan guru yang belum tuntas serta buku paket siswa yang belum tersedia menambah keruwetan itu.

Keruwetan semakin menjadi ketika pada tahun pelajaran 2014/2015 pemerintah melalui Kemendikbud yang saat itu masih digawangi oleh M. Nuh menginstruksikan dan memberlakukan Kurikulum 2013 secara serentak di seluruh sekolah di Indonesia, mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA. Bahkan siswa yang tahun lalu masih menggunakan kurikulum 2006 harus mengikuti matrikulasi untuk mengejar materi sesuai dengan Kurikulum 2013. Lagi-lagi yang dibuat kelabakan adalah guru-guru sebagai pelaksana di lapangan. Siswa pun terpaksa dan dipaksa menerima kebijakan tersebut dengan pasrah.

Memang, kebijakan tersebut pada akhirnya dibarengi dengan pelatihan guru secara bertahap. Bahkan, program pendampingan kepada sekolah, kepala sekolah, dan guru juga digulirkan oleh pemerintah. Akan tetapi, pelatihan dan pendampingan tersebut belum sepenuhnya menjadikan guru paham dan mampu mengimplementasikannya pada pembelajaran di kelas. Hal ini diperparah oleh regulasi yang berubah-ubah. Ketika guru belajar materi A sesuai aturan X, tiba-tiba muncul aturan Y. Hal ini membuat guru tidak semakin paham, tapi justru semakin bingung.

Pergantian tampuk kepemimpinan pada Oktober 2014 lalu, tidak serta merta membuat gonjang ganjing ini mereda. Mendikbud, Anies Baswedan, tanggal 5 Desember 2014 lalu, mengeluarkan keputusan menghentikan sementara Kurikulum 2013 bagi sekolah-sekolah yang baru melaksanakan satu semester. Sekolah-sekolah ini diminta kembali menggunakan Kurikulum 2006. Sementara itu, sekolah-sekolah yang telah melaksanakan selama tiga semester diminta untuk melanjutkan dan menjadi sekolah percontohan.

Keputusan ini kembali menuai kontroversi. Pihak yang pro menganggap keputusan tersebut sudah tepat, sebab Kurikulum 2013 memang belum siap saji sehingga perlu dimatangkan, dilakukan evaluasi dan diperbaiki. Terlebih belum semua guru mendapat pelatihan dan buku siswa belum tersedia di semua sekolah. Sementara itu, pihak yang kontra menganggap keputusan itu terlalu tergesa-gesa, terlebih diputuskan pada tengah tahun pelajaran.

Permasalahan di lapangan sesungguhnya tidak hanya berhenti pada melanjutkan Kurikulum 2013 atau kembali ke Kurikulum 2006. Bagi sekolah-sekolah yang harus kembali ke Kurikulum 2006 tentu keputusan tersebut berdampak pada struktur kurikulum, jam mengajar guru, raport siswa, dan sebagainya. Sementara itu, sekolah-sekolah yang harus melanjutkan Kurikulum 2013 berarti harus menerima sajian kurikulum yang belum matang. Peraturan yang berubah-ubah juga membuat guru seperti tak punya pegangan yang pasti, sehingga membuat mereka gamang untuk melangkah.

Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat selain pangan dan kesehatan. Selain itu, pendidikan merupakan kunci keberhasilan sebuah bangsa. Pendidikan yang berkualitas baik tentu akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas baik pula. Untuk itu, kebijakan pemerintah terkait bidang pendidikan perlu mendapat perhatian yang serius, tidak setengah-setengah. Oleh karena itu, janji Mendikbud, Anies Baswedan untuk segera membenahi Kurikulum 2013 tentu sangat ditunggu, sehingga gonjang ganjing Kurikulum 2013 ini dapat segera berakhir. Salam.##

Yang Berbeda di Ujian Nasional 2013

0939243620X310Ujian Nasional (UN) merupakan sarana penilaian hasil belajar para siswa yang dilakukan oleh pemerintah. Perhelatan pendidikan tahunan yang dilakukan secara serentak ini diberlakukan bagi siswa jalur formal maupun non formal, yang berada di kelas 6 SD/MI, siswa kelas IX SMP/MTs, dan siswa kelas XII SMA/MA/SMK. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mencantumkan hasil Ujian Nasional (UN) para peserta didik akan digunakan sebagai evaluasi pengendalian mutu pendidikan secara nasional, sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Meski sering memunculkan kontroversi lantaran banyaknya persoalan terkait pelaksanaan Ujian Nasional, tahun ini pemerintah kembali menggelar Ujian Nasional (UN) 2013. Berbagai persoalan sering muncul menyertai pelaksanaan Ujian Nasional ini, antara lain masalah distribusi soal, kebocoran soal, sampai masalah kejujuran. Oleh karena itu, pemerintah berupaya untuk meminimalisasi masalah-masalah tersebut dengan melakukan beberapa perubahan dan perbaikan pada pelaksanaan Ujian Nasional 2013 ini.

Bila mencermati Prosedur Operasional Standar Pelaksanaan (POS) Ujian Nasional 2013 yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai pihak yang membantu pemerintah dalam penyelenggaraan Ujian Nasional, maka akan ditemukan hal-hal baru dalam Ujian Nasional 2013 ini. Hal-hal baru tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Soal pada setiap ruang terdiri dari 20 macam paket soal. Artinya setiap siswa mengerjakan paket soal yang berbeda.
  2. Kode paket soal menggunakan sistem barcode (bukan huruf atau angka). Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif untuk mencegah adanya kebocoran soal.
  1. Naskah soal dan LJUN menyatu (satu set) dan harus dipisahkan sendiri oleh siswa ketika akan mengerjakan.
  2. Siswa harus mencantumkan nama dan nomor ujian pada naskah soal dan LJUN.
  3. Terdapat sanksi bagi Peserta UN maupun Pengawas UN yang melakukan pelanggaran sesuai dengan kategori pelanggarannya (ringan, sedang, dan berat)

Berkaitan dengan hal-hal baru tersebut, maka peserta Ujian Nasional harus benar-benar memperhatikan dan melakukan tahapan-tahapan kerja sebagai berikut.

  1. Peserta UN harus memastikan bahwa antara naskah soal dan LJUN masih menyatu (belum terpisah). Kalau sudah dalam keadaan terpisah, peserta wajib melaporkannya kepada pengawas dan meminta untuk diganti. Jangan sampai mengambil risiko, tetap mengambil naskah soal dan LJUN yang sudah terpisah.
  2. Pastikan pula bahwa naskah soal dan LJUN tidak dalam kondisi rusak atau cacat. Peserta perlu mengecek dan memperhatikan satu persatu lembar pada naskah soal dan memastikan bahwa tidak ada satu pun soal yang rusak, tidak terbaca, atau tidak lengkap. Tahapan ini penting karena jika peserta baru menemukan soal yang rusak di tengah-tengah proses mengerjakan, peserta harus meminta naskah soal dan LJUN yang baru. Itu artinya, peserta harus mengisi identitas dan mengerjakan soal dari awal lagi.
  3. Bila naskah soal dan LJUN sudah dipastikan masih bersatu dan dalam keadaan baik serta lengkap, peserta UN wajib menuliskan identitas pada naskah soal dan LJUN. Langkah ini penting untuk mengantisipasi tertukarnya naskah soal dengan LJUN bila pada saat mengerjakan, ada angin besar yang menerbangkan naskah soal dengan LJUN sehingga dimungkinkan dapat tertukar dengan peserta lain.
  4. Setelah identitas ditulis pada naskah soal dan LJUN, peserta UN dapat memisahkan naskah soal dengan LJUN-nya dengan hati-hati menggunakan penggaris.

Langkah kerja ini mohon diperhatikan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh peserta ujian demi kebaikan dan kelancaran dalam menempuh Ujian Nasional 2013.

SELAMAT MENEMPUH UJIAN NASIONAL …

Guru di Tengah Arus Perubahan Zaman

Kualifikasi akademik dan sertifikat profesi hanyalah bentuk formal-legal yang menunjukkan kualitas seorang guru. Akan tetapi, kualitas guru yang sesungguhnya ditentukan oleh profesionalitas dan kecintaannya pada profesinya.

 Berbicara mengenai guru, sepertinya memang tidak ada habisnya. Sebagai salah satu unsur pendidikan, guru selalu menjadi bagian yang menarik untuk diperbincangkan. Ada banyak hal yang dapat diungkapkan, ada banyak sisi yang dapat disoroti. Mulai dari masalah kesejahteraan, distribusi, sampai dengan masalah kualitas. Guru memang bukan satu-satunya elemen penentu keberhasilan pendidikan. Namun, tidak berlebihan apabila dikatakan guru adalah kunci utama pendidikan. Guru menempati posisi penting dan sentral dalam pendidikan. Berhasil tidaknya pendidikan sangat ditentukan oleh guru. Ada tiga tugas penting yang diemban oleh seorang guru, yaitu mengajarkan ilmu, membentuk karakter yang mulia, dan menanamkan optimisme serta cita-cita positif kepada peserta didik.

Pada tataran perjuangan kesejahteraan, mungkin problem guru sedikit teratasi. Kesejahteraan guru sudah menampakkan perubahan yang cukup signifikan. Namun, ketika kesejahteraan telah tercapai, permasalahan guru tak berarti selesai. Permasalahan guru saat ini tak hanya soal kesejahteran, tapi lebih dari itu. Kualitas guru tentu menjadi hal yang tidak dapat diabaikan. Terkait dengan kualitas guru, pemerintah mulai melakukan upaya dengan menyelenggarakan Uji Kompetensi Guru (UKG). UKG dimaksudkan untuk pemetaan guru. Dari hasil pemetaan, pemerintah akan menentukan bentuk dan jenis pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap guru. Meski menimbulkan pro dan kontra, upaya pemerintah ini layak untuk diapresiasi. Bila ada kekurangan dicarikan solusi, bukan malah dicaci.

Peningkatan kualitas guru yang diupayakan pemerintah tentu tidak ada artinya bila tidak dibarengi oleh kemauan dan sikap guru sendiri. Guru harus senantiasa mawas diri dan melakukan perbaikan-perbaikan kompetensinya seperti kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Oleh karena itu, guru dituntut untuk senantiasa meningkatkan kompetensi diri. Tuntutan profesionalitas itu membutuhkan perubahan dalam aktivitas mengajar, menggali informasi dari berbagai sumber, memodifikasi aneka strategi kreatif belajar-mengajar, up grade pengetahuan, sehingga guru dapat mengikuti dan menyiasati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peluang pemanfaatannya untuk memajukan proses belajar mengajar di kelas.

Guru harus senantiasa peka terhadap kebutuhan pendidikan saat ini. Dinamika pendidikan yang terus berubah menuntut guru untuk bisa fleksibel dan adaptif terhadap segala perubahan yang ada. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat melahirkan tuntutan baru terhadap peran guru Terlebih di era informasi, sumber-sumber pembelajaran mudah diperoleh. Kemajuan teknologi memberi kemudahan pada masyarakat – termasuk peserta didik –  untuk mendapatkan informasi. Hal ini secara tidak langsung juga menggeser peran guru. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar dan sumber informasi. Apabila di era informasi ini guru tidak mengembangkan kompetensinya dalam penguasaan teknologi dan menyerap informasi, maka akan timbul kesenjangan antara kemampuan guru dan harapan peserta didik.

Selain berupaya melakukan peningkatan penguasaan ilmu, seorang guru juga harus memiliki kecintaan terhadap profesinya. Guru hendaknya merenungkan kembali tentang hakikat menjadi seorang guru. Bagaimana menjadi guru yang sejati, guru yang benar-benar menjadi ’guru’. Dalam realitas saat ini, banyak dijumpai guru yang hanya sekadar jadi guru. Guru dianggap hanya seperti buruh atau tukang. Bekerja, lalu dapat upah. Proses mengajar dan mendidik dianggap seperti pembeli dengan kasir. Guru yang demikian, mengajar hanya berangkat dari ruang kosong, tidak lahir dari  idealisme. Ia tidak menjadi guru yang memiliki semangat kerja tinggi, tidak mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya ke arah yang positif melalui pengajaran dan pendidikan sehingga anak didik mengalami perubahan dan pencerahan. Guru sejati adalah sumber inspirasi anak didik.

Kualifikasi akademik dan sertifikat profesi hanyalah bentuk formal-legal yang menunjukkan kualitas seorang guru. Akan tetapi, kualitas guru yang sesungguhnya ditentukan oleh profesionalitas dan kecintaannya pada profesi yang digeluti, yaitu ketika guru berada di ruang-ruang kelas bersama-sama dan melayani kebutuhan peserta didik. Mengajar dan mendidik, memanusiakan manusia-manusia muda. Hal ini sesungguhnya jauh lebih sulit dipenuhi sekaligus menjadi tantangan yang tiada habisnya bagi seorang guru. Guru harus berupaya untuk menunjukkan etos dan totalitas dalam mengajar dan mendidik. Guru harus memiliki jiwa pembaharu mengingat guru merupakan agen perubahan ke arah yang lebih baik. Guru harus menyadari bahwa peran guru sebagai pengajar memang bisa tergantikan oleh hal lain. Namun, peran guru sebagai pendidik tidak dapat tergantikan oleh media apa pun.

Pendidikan yang baik hanya dapat terwujud di tangan guru-guru yang berkualitas, kreatif, berdedikasi, dan berintegritas tinggi. Diperlukan totalitas dan kesungguhan guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Guru tidak hanya cukup sekadar datang, mengajar, lalu pulang. Idealisme, semangat, dan kinerja yang tinggi disertai rasa tanggung jawab mesti menjadi ciri guru yang profesional. Menjadi guru ala kadarnya, akan menghasilkan kemampuan anak didik ala kadarnya pula. Oleh karena itu, guru juga harus selalu belajar bukan hanya mengajar. Berani mengajar berarti juga harus berani belajar. Lantaran sesungguhnya, pesaing utama seorang guru bukanlah guru lain di sekitarnya, tetapi perubahan zaman. Oleh karena itu, guru yang luar biasa adalah guru yang selalu belajar dan terus belajar. Selamat HARI GURU. Salam.##