Pancasila dan Kita

Tujuh puluh dua tahun lalu, tepatnya 1 Juni 1945, di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Bung Karno menyampaikan pandangannya tentang fondasi dasar Indonesia Merdeka yang beliau sebut dengan istilah Pancasila sebagai dasar filosofis atau sebagai pandangan hidup bagi Indonesia Merdeka.

Selama tujuh puluh dua tahun perjalanan bangsa, Pancasila telah mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga demokrasi multipartai di era reformasi saat ini. Di setiap zaman, Pancasila harus melewati alur dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai dasar filosofis bangsa Indonesia yang terus berkembang dan tak pernah berhenti di satu titik terminal sejarah.

Situasi dan lingkungan kehidupan bangsa pada tahun 1945 — 72 tahun yang lalu — telah mengalami perubahan yang amat nyata pada saat ini, dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Beberapa perubahan yang bangsa kita alami antara lain:

(1) terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya;

(2) perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) yang tidak diimbagi dengan kewajiban asasi manusia (KAM);

(3) lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga yang rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.

Perubahan-perubahan tersebut telah mendorong terjadinya pergeseran nilai yang dialami bangsa Indonesia, sebagaimana terlihat dalam pola hidup masyarakat pada umumnya, termasuk dalam corak perilaku kehidupan politik dan ekonomi yang terjadi saat ini. Dengan terjadinya perubahan tersebut diperlukan reaktualisasi nilai-nilai pancasila agar dapat dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi saat ini dan yang akan datang, baik persoalan yang datang dari dalam maupun dari luar. Belum berhasilnya kita dalam melakukan reaktualisasi nilai-nilai Pancasila tersebut menyebabkan keterasingan Pancasila dari kehidupan nyata bangsa Indonesia.

Terjadinya euphoria reformasi juga berimplikasi pada munculnya ‘amnesia nasional’ tentang pentingnya kehadiran Pancasila sebagai norma dasar yang mampu menjadi payung kebangsaan yang menaungi seluruh warga yang beragam suku bangsa, adat istiadat, budaya, bahasa, agama dan afiliasi politik. Memang, secara formal Pancasila diakui sebagai dasar negara, tetapi tidak lagi dijadikan pilar dalam membangun bangsa yang penuh problematika saat ini.

Pada hari lahir Pancasila 1 Juni 2017 saat ini, perlu digarisbawahi apa yang sudah dikemukakan banyak kalangan yakni perlunya dilakukan reaktualisasi, restorasi atau revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa masa kini dan masa datang. Problema kebangsaan yang dihadapi bangsa Indonesia semakin kompleks, baik dalam skala nasional, regional maupun global, memerlukan solusi yang tepat, terencana dan terarah dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pemandu arah menuju hari esok Indonesia yang lebih baik. Pancasila seharusnya terus menerus diaktualisasikan dan menjadi jati diri bangsa yang akan mengilhami setiap perilaku kebangsaan dan kenegaraan, dari waktu ke waktu. Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit.

Reaktualisasi Pancasila semakin menemukan relevansinya di tengah menguatnya paham radikalisme, fanatisme kelompok dan kekerasan yang mengatasnamakan agama yang kembali marak beberapa waktu terakhir ini. Saat infrastruktur demokrasi terus dikonsolidasikan, sikap intoleransi dan kecenderungan mempergunakan kekerasan dalam menyelesaikan perbedaan, apalagi mengatasnamakan agama, menjadi kontraproduktif bagi perjalanan bangsa yang multikultural ini. Fenomena fanatisme kelompok, penolakan terhadap kemajemukan dan tindakan teror kekerasan tersebut menunjukkan bahwa obsesi membangun budaya demokrasi yang beradab, etis dan eksotis serta menjunjung tinggi keberagaman dan menghargai perbedaan masih jauh dari kenyataan.

Krisis ini terjadi karena luruhnya kesadaran akan keragaman dan hilangnya ruang publik sebagai ajang negosiasi dan ruang pertukaran komunikasi bersama atas dasar solidaritas warganegara. Demokrasi kemudian hanya menjadi jalur antara bagi hadirnya pengukuhan egoisme kelompok dan partisipasi politik atas nama pengedepanan politik komunal dan pengabaian terhadap hak-hak sipil warganegara serta pelecehan terhadap supremasi hukum. Dalam perspektif itulah, reaktualisasi Pancasila diperlukan untuk memperkuat paham kebangsaan kita yang majemuk dan memberikan jawaban atas sebuah pertanyaan akan dibawa ke mana biduk peradaban bangsa ini berlayar di tengah lautan zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian?

Reaktualisasi Pancasila juga mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang sehingga memposisikan Pancasila menjadi solusi atas berbagai macam persoalan bangsa. Melalui reaktualisasi Pancasila, dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.

Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian kita, seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan sosial, bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan.  Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Nilai-nilai itu harus diinternalisasikan dalam sanubari bangsa sehingga Pancasila hidup dan berkembang di seluruh pelosok nusantara. Dengan demikian, meskipun berbeda suku, agama, adat istiadat dan afiliasi politik, kalau kita mau bekerja keras kita akan menjadi bangsa besar yang kuat dan maju di masa yang akan datang.

Saya Indonesia, Saya Pancasila !!!

Iklan

Pendidikan yang Humanis dari Anies Baswedan

Anies Baswedan memang kini tak lagi menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan setelah Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinetnya pada 27 Juli 2016 lalu. Banyak pihak yang kaget dan tidak menduga, karena menganggap menteri yang berpenampilan selalu santun dan murah senyum ini sudah tepat menjalankan tugas dan fungsinya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi, itulah kenyataannya. Menteri baru telah ditunjuk Presiden Jokowi untuk menggantikan posisinya.

Selama 20 bulan masa kepemimpinannya di Kemendikbud, sesungguhnya ada berbagai terobosan dan gebrakan yang dilakukan Anies. Yang paling banyak dirasakan oleh masyarakat adalah upaya Anies Baswedan dalam mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia atau pendidikan yang humanis. Anies mencoba mengembalikan ruh kemanusiaan dalam jiwa pendidikan nasional. Anies memandang bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia, baik dari sisi guru maupun peserta didiknya.

Tentu kita belum lupa, salah satu hal yang lekat dengan Anies Baswedan adalah semangatnya membumikan kembali ajaran Ki Hajar Dewantara. Dikatakannya, bahwa para guru harus belajar dari filosofi yang digagas bapak pendidikan Ki Hajar Dewantara, menamakan lembaga pendidikannya Taman Siswa yaitu tempat yang penuh kebahagian dan menyenangkan karena anak butuh bermain. Pendidikan di Indonesia harus adiktif atau membuat anak ketagihan ingin kembali belajar. Karena kita akan senang kalau anak mengatakan semoga besok cepat datang agar bisa ke sekolah, bukan berkata semoga besok sekolah tidak ada. Sebuah sekolah – apapun bentuknya – seharusnya mampu membentuk akal dan budi manusia agar menjadi insan-insan yang luhur dan efektif, serta bermakna bagi lingkungannya.

Dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang humanis, Anies juga mengusung sekolah berintegritas. Hal ini didorong oleh keprihatinannya melihat ketidakjujuran di lingkungan sekolah, khususnya berkaitan dengan Ujian Nasional. UN yang selama ini menjadi penentu kelulusan telah menciptakan berbagai ekses. Yang paling menonjol tentunya mendorong ketidakjujuran. Anies berupaya mengembalikan UN pada kedudukan dan fungsinya, yaitu memotret capaian pendidikan yang sesungguhnya. Dan, pada masa jabatannya, Anies menghapus syarat UN sebagai penentu kelulusan. Ia mengusung indeks integritas Ujian Nasional (IIUN) sebagai parameter yang membanggakan sekolah dan daerah. Sekolah dengan IIUN tinggi diberi piagam sebagai bukti bahwa sekolah itu berikhtiar menjunjung kejujuran dalam penyelenggaraan UN.

Dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang maju, Anies juga membentuk Direktorat Pendidikan Keluarga. Hal ini dimaksudkan bahwa keluarga juga harus turut bertanggung jawab atas keberhasilan pendididkan putra putrinya. Bahkan Anies juga membuat gebrakan mengenai kewajiban orangtua untuk mengantar anaknya pada hari pertama masuk sekolah.

Anies juga mencanangkan Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti. Hal ini didorong oleh keinginannya untuk membangun dan memperbaiki moral bangsa yang saat ini banyak terdegradasi oleh pengaruh-pengaruh negatif, baik dari dalam mupun luar negeri. Meski pendidikan karakter ini bukan hal baru, tetapi Anies lebih menekankannya sebagai gerakan sehingga hingar bingarnya cukup terasa. Khususnya, mengenai karakter nasionalisme Anies mewajibkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum memulai pelajaran.

Menjelang akhir masa jabatannya, Anies mencanangkan masa orientasi peserta didik baru yang bebas dari kekerasan. Hal ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, terutama orangtua. Masa orientasi peserta didik baru selama ini menjadi ajang perploncoan senior kepada yuniornya. Bibit-bibit kekerasan sering muncul pada kegiatan tersebut. Hal ini akan terus terjadi jika rantai tidak diputus.

Khusus bagi guru, Anies menempatkan guru sebagai sosok yang mulia karena guru adalah ujung tombak pendidikan. Dalam berbagai kesempatan Anies terus memotivasi dan memompa semangat guru untuk secara total mengabdi mencerdaskan anak-anak bangsa. Anies mengatakan bahwa menjadi guru bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan pelukis masa depan. Menjadi guru bukanlah pengorbanan, melainkan sebuah penghormatan. Guru adalah pembuat sejarah, dan sebagainya. Anies juga mendorong guru untuk selalu berkarya, guru mulia karena karya. Karya guru yang paling Nampak adalah terciptanya generasi muda bangsa yang cerdas dan berkarakter mulia.

Hal-hal yang dilakukan oleh Anies adalah upayanya dalam menciptakan pendidikan humanistik, yaitu pendidikan yang berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai inilah yang saat ini banyak tercerabut dalam jiwa bangsa Indonesia. Dengan gayanya yang khas, Anies selalu mengingatkan untuk memanusiakan peserta didik dan memanusiakan guru. Pendidikan humanistik adalah sebuah konsep pendidikan yang berupaya menyentuh hati manusia sebagai upaya untuk menanamkan karakter atau budi pekerti yang baik. Hati hanya bisa disentuh dengan hati, dan ketulusan hati seorang guru dalam mengajar akan sangat berdampak terhadap perkembangan belajar peserta didik.

Kini, Anies Baswedan memang tak lagi menjabat sebagai Mendikbud. Namun, upaya-upaya berharga yang telah dirintisnya ada baiknya untuk terus dilanjutkan demi mewujudkan pendidikan nasional yang bermartabat.

Ringkasan Revisi Kurikulum 2013

hasil-revisi-kurikulum-2013-terbaru-edisi-final-tahun-2016

Ringkasan Revisi Kurikulum 2013

  1. Nama Kurikulum tidak berubah menjadi Kurikulum Nasional tetapi menggunakan nama Kurikulum 2013 Edisi Revisi yang berlaku secara Nasional;
  1. Penilaian sikap KI 1 & KI 2 sudah ditiadakan di setiap mata pelajaran hanya agama dan PPKn namun Kompetensi Inti ( KI ) tetap dicantumkankan dalam penulisan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP);
  1. Jika ada 2 (dua) nilai praktek dalam 1 Kompetensi Dasar (KD), maka yang diambil adalah  nilai yang tertinggi. Penghitungan nilai ketrampilan dalam 1 KD ditotal (praktek, produk, dan portofolio) dan diambil nilai rata-rata. Untuk pengetahuan, bobot penilaian harian dan penilaian akhir semester itu sama;
  1. Pendekatan saintifik 5M bukanlah satu-satunya metode saat mengajar dan apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan;
  1. Silabus Kurikulum 2013 Edisi Revisi lebih ramping hanya 3 (tiga) kolom yaitu KD, materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran;
  1. Perubahan terminologi ulangan harian menjadi penilaian harian, UAS menjadi penilaian akhir semester untuk semester 1 (satu) dan penilaian akhir tahun untuk semester 2 (dua). Dan sudah tidak ada lagi UTS langsung ke penilaian akhir semester;
  1. Dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tidak perlu disebutkan nama metode pembelajaran yang digunakan, dan materi dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik penilaian (jika ada);
  1. Skala penilaian menjadi 1 – 100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat dan deskripsi;
  1. Remedial diberikan untuk yang kurang, namun sebelumnya siswa diberikan pembelajaran ulang. Nilai remedial inilah yang dicantumkan dalam hasil

Berkaitan  dengan upaya standarisasi pendidikan nasional kita, Pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan sejumlah peraturan baru, diantaranya:

  1. Permendikbud No. 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah yang digunakan sebagai acuan utama pengembangan standar isi, standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Dengan diberlakukanya    Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  2. Permendikbud No. 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah  yang memuat tentang  Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Kompetensi Inti meliputi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan ketrampilan. Ruang lingkup materi yang spesifik untuk setiap mata pelajaran dirumuskan berdasarkan Tingkat Kompetensi dan Kompetensi Inti untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  3. Permendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang merupakan kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan dasar menengah untuk mencapai kompetensi lulusan. Dengan diberlakukanya    Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
  4. Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan yang merupakan kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri ini, maka Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Keempat peraturan menteri di atas tidak dapat dilepaskan dari adanya upaya revisi Kurikulum 2013 yang saat ini sedang diterapkan di beberapa sekolah sasaran. Dengan kata lain, keempat peraturan menteri di atas pada dasarnya merupakan landasan yuridis bagi penerapan kurikulum 2013 yang telah direvisi.

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang keempat peraturan di atas, silahkan klik tautan tautan di bawah ini:

Permendikbud Nomor 20/2016: SKL
Permendikbud Nomor 21/2016: Standar Isi
Permendikbud Nomor 22/2016: Standar Proses
Permendikbud Nomor 23/2016: Standar Penilaian

UN, Antara Nilai dan Integritas

IMG-20160323-WA0005Hasil Ujian Nasional tingkat SMA sederajat sudah diumumkan awal Mei lalu. Tidak seperti biasanya, hingar bingar mengenai perolehan nilai tertinggi untuk daerah maupun personal tak lagi membahana. Bertahun-tahun lalu, ujian nasional (UN) dipandang sebagai puncak prestasi sekolah ataupun daerah, apalagi jika mencapai kelulusan 100 persen. Hal ini membuat Kemendikbud berupaya mengembalikan UN pada kedudukan dan fungsinya, yaitu memotret capaian pendidikan yang sesungguhnya.

Mendikbud Anies Baswedan mengusung indeks integritas Ujian Nasional (IIUN) sebagai parameter yang membanggakan sekolah dan daerah. Sekolah dengan IIUN tinggi diberi piagam sebagai bukti bahwa sekolah itu berikhtiar menjunjung kejujuran dalam penyelenggaraan UN.

Pendekatan ini membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan. Nilai UN untuk SMA sederajat tahun ini mengalami penurunan. Bahkan, penurunan tinggi terjadi pada sekolah yang menggelar UN berbasis komputer. Ke depan tentu diharapkan integritas yang tinggi bisa dibarengi dengan prestasi yang membaik pula. Dengan demikian, dapat diindikasikan bahwa sekolah dapat memperoleh nilai IIUN yang tinggi dan prestasinya juga tinggi berarti telah melaksanakan kegiatan pembelajaran yang baik.

Hal ini membutuhkan kerja keras bersama agar mengubah cara belajar yang tadinya untuk lulus UN menjadi menguasai kompetensi yang sudah ditetapkan kurikulum. Ini menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan kita.

Mengajar Itu Seni

hardiknas2016q

Tidak semua nasihat harus diucap lewat kata. Karena ada beberapa nasihat yang jika diucapkan, akan terasa menyayat dan menyakitkan. Guru yang bijak tahu persis akan hal itu. Karenanya, ia menyisipkan banyak nasihat dalam laku. Kadang pada diamnya, kadang pada teladannya, terkadang pada ketakpedulian atau kecuekannya. Dan yang tak lazim, bahkan nasihat terkadang diberikan dengan kesengajaannya berbuat salah. Agar sang murid melihat dengan cara yang tepat sesuai konteksnya. Agar sang murid berakal dan menggunakan akalnya. Agar sang murid mengerti dengan hati dan paham sampai menembus nurani.

Di mata murid arogan. Guru yang semacam itu disebut guru yang tidak perhatian atau bahkan dianggap sebagai guru yang tidak pantas dan tidak pas. Namun, di mata murid yang siap belajar, yang demikian adalah nasihat paling santun yang akan dikenang kelak saat keberhasilan sudah di tangan.

Mengajar dan belajar adalah seni. Seni untuk saling mengerti dan saling memahami. Seperti rasa cinta 2 sejoli yang tak ingin kata-kata menjadi pengganggu saat berdua. Karena kadang, diam asal bersama adalah sebuah keromantisan.

Mengajar bukanlah sebuah kegiatan yang memiliki hubungan pasti antara subjek dan objek. Mengajar adalah sebuah seni dengan guru menjadi senimannya. Melalui mengajar, ia mengekspresikan kepribadiannya, dan para siswa adalah “hasil karya seni manusiawi” yang sifatnya tidak statis. Sama seperti kesenian, mengajar juga memberi kesempatan kepada guru untuk menjadi jujur kepada dirinya.

Mengajar merupakan sesuatu yang pribadi, yang tidak dapat digantikan begitu saja. Mengajar itu melibatkan guru sebagai sosok yang menyeluruh, bukan hanya sebagai seseorang yang mencoba menyampaikan sepotong pengetahuan.

Tak salah jika pepatah lama yang mengatakan “Guru akan muncul saat muridnya sudah siap”. Bukan berarti kala murid tak siap tak ada guru yang bisa dilihat. Guru ada, guru terlihat. Hanya saja, murid yang tak siap hanya akan melihat guru sebagai profesi. Seorang yang dibayar dan punya nama sebutan seperti profesor, mentor, motivator, dan sebagainya.

Sedangkan murid yang siap, akan mampu melihat guru sebagai pelita bagi kehidupannya. Mungkin tidak bergelar profesi, mungkin hanya sekedar guru kampung yang mengajar mengaji. Meski begitu, lautan ilmu kehidupannya seolah tak bertepi.

Akhirnya, yang belajar tak mengenal bosan karena ilmu semakin dalam. Yang mengajar tak kehabisan bahan, karena kehidupan masih menyisakan banyak hal untuk diolah dalam kajian hikmah. Hal paling penting dan utama menjadi guru ialah kecintaan dan semangat yang terus-menerus (passion) untuk menyampaikan ilmu sehingga dapat melahirkan pribadi-pribadi yang luhur.

Inilah sejatinya peran guru-guru kehidupan. Sudah sedikit memang jumlahnya. Namun, beliau-beliau masih ada. Menanti murid-murid yang siap untuk mengambil ilmu, lengkap dengan keberkahannya.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Nyalakan pelita, terangkan cita-cita.*