Menjadi Guru yang Memotivasi, bukan Menghakimi

pembelajaran1Guru bukanlah profesi yang mudah dijalani. Tugas guru adalah mengajar dan mendidik. Guru tidak hanya dituntut untuk mampu sebagai agent of learning, tetapi juga harus mampu memerankan dirinya sebagai agent of change (agen perubahan) bagi peserta didik. Untuk itu, seorang guru diharapkan dapat menjadi seorang pendidik yang tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga harus mampu menjadi motivator serta terlibat langsung dalam proses pengubahan sikap dan perilaku peserta didik.

Terkait dengan pelajaran menulis dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, motivasi guru merupakan hal penting dan tak dapat diabaikan. Mengingat, kemampuan menulis peserta didik saat ini masih perlu dibangkitkan. Pelajaran menulis atau mengarang bukanlah hal yang mudah bagi peserta didik. Bagi sebagian besar peserta didik, tugas mengungkapkan buah pikiran dalam bentuk tulisan seringkali menjadi momok. Banyak peserta didik yang merasa tersiksa ketika mengerjakan tugas ini. Meskipun pada akhirnya mereka menghasilkan tulisan, hasilnya seringkali banyak yang jauh dari tujuan.

Guru merupakan tempat belajar bagi peserta didik. Demikian juga dalam pembelajaran menulis. Untuk itu, guru harus sabar dan tekun dalam membimbing peserta didik dalam belajar menulis. Yang sering terjadi selama ini, guru hanya membaca sekilas, mengukur panjang pendeknya tulisan, baik tidaknya bentuk tulisan kemudian memberi nilai. Yang lebih memprihatinkan adalah peserta didik diberi tugas menulis, kemudian peserta didik mengumpulkan tulisan, tetapi guru hanya menumpuk kertas-kertas tersebut tanpa pernah membuka atau membacanya.

Penilaian atau penghargaan guru terhadap tulisan peserta didik masih sangat kurang. Kalau pun ada, penilaian guru terkesan menghakimi. Guru hanya peduli pada angka-angka sebagai nilai yang kaku. Guru hanya berpandangan bahwa hasil akhir pembelajaran adalah angka. Penilaian tidak disertai catatan-catatan yang membuat peserta didik mengetahui kekurangan ataupun kelebihannya. Akibatnya, kemauan peserta didik untuk terus menulis tidak tumbuh.

Perlu disadari, catatan guru pada tulisan peserta didik dapat berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Catatan guru merupakan bentuk respon guru terhadap hasil kerja peserta didik dalam menyelesaiakan tugas yang diberikan. Catatan guru hendaknya tidak diberikan dengan kata-kata atau kalimat yang menghakimi yang dapat memupus motivasi peserta didik, misalnya “judul tidak sesuai tema”, “kalimat-kalimatmu tidak efektif”, “tidak bisakah mencari tema baru?”, dan sebagainya.

Catatan guru hendaknya diwujudkan dalam komentar yang positif berupa kata-kata progresif bukan kritik tanpa solusi. Catatan tersebut terkait dengan pujian atau pernyataan-pernyataan yang memperkaya pemikiran peserta didik. Hal ini memberikan kesan guru memperhatikan yang ingin disampaikan peserta didik dan menangkap maksud dibalik tulisan peserta didik sehingga peserta didik merasa diberi motivasi individual. Misalnya, guru bisa menuliskan “bagus, coba tema baru”, “bagus, tambahkan deskripsi agar cerita lebih hidup, terus berlatih”. Atau “Anda telah berusaha dengan sungguh-sungguh, memulai dengan amat berat, tapi Anda menunjukkan kemajuan yang sangat baik, teruslah berusaha. Perbaiki kalimat pembukanya, lebih banyak mencari referensi, jangan takut membuat analisis, lantas berikan kesimpulan yang kokoh.”

Di samping itu, guru harus mau memberikan apresiasi terhadap hasil tulisan peserta didik yang cukup menonjol. Jika ada peserta didik yang mampu menghasilkan tulisan yang baik dan bermutu, guru seharusnya mau mengarahkan peserta didiknya untuk mengirimkan tulisan tersebut, seperti puisi, artikel, resensi, cerpen, dan sebagainya ke media massa, minimal pada majalah sekolah. Guru juga bisa memberikan apresiasi pada peserta didik tersebut dengan memberikan hadiah berupa buku-buku yang dapat memotivasi kegiatan tulis menulis. Salam.##.

Iklan

Lomba Menulis Esai

Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengundang pelajar tingkat SMA/SMK/MA/SMA-LB/PAket C untuk menyumbangkan gagasan dalam lomba menulis esai sosial budaya dengan tema Hidup Harmonis di Tengah Perbedaan. Naskah esai diharapkan mengkaji isu-isu aktual dan menyumbangkan perspektif guna membangun kehidupan harmonis di tengah perbedaan dan keragaman budaya.

deadline 15 September 2013. Info lengkap silakan buka di http://www.lktikebudayaan.com/panduan-lomba-esai-sosial-budaya-2013/

Poster-Lomba-Menulis-Esai-2013-FA

Menjemput Ide untuk Menulis

26-HMI_belajar_menulisMenulis pada hakikatnya merupakan kegiatan menuangkan ide atau gagasan ke dalam bentuk dan bahasa tulis. Bagi sebagian orang menulis memang menjadi hal yang mudah. Namun, bagi sebagian yang lain, bisa jadi menulis menjadi sesuatu yang sangat susah. Alasan yang sering dilontarkan adalah tidak punya ide atau sulitnya menemukan ide untuk dituangkan ke dalam tulisan. Sesungguhnya, ide bukanlah sesuatu yang harus ditunggu, tapi justru sesuatu yang harus dijemput, didatangkan, dicari, bahkan dikejar. Lalu, apa upaya yang dapat dilakukan untuk menjemput ide itu datang kepada kita? Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya mendatangkan ide untuk dituangkan ke dalam tulisan.

1.   Memperkaya diri dengan membaca

Membaca dan menulis diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Menulis membutuhkan membaca dan begitu pula sebaliknya, membaca membutuhkan menulis. Kegemaran membaca akan membekali wawasan dan pengetahuan yang luas kepada seorang untuk menulis. Dengan membaca, hal-hal baru diperoleh dan munculnya ide baru pun sangat memungkinkan. Agar materi yang dibaca tidak mudah menguap, bila perlu catatlah poin-poin penting dari bahan bacaan yang sudah dibaca. Catatan-catatan tersebut akan menjadi referensi dalam menemukan gagasan baru yang akan ditulis. Di samping itu, dan barangkali sudah menjadi hukum alam, bahwa orang yang banyak membaca lama-kelamaan akan muncul keinginan untuk menulis. Hal ini bisa dianalogikan dengan orang yang banyak memasukkan makanan, lama kelamaan ingin mengeluarkannya. Nah, bila demikian, bila memang kita (Anda) ingin bisa menulis, mengapa masih enggan membaca? Membacalah mulai dari sekarang, mulai dari membaca kitab suci sampai membaca kertas bungkus tempe atau bungkus kacang.

2.   Memperhatikan hal-hal di sekitar

Jangan pernah abaikan segala hal yang terjadi dan yang ada di sekitar. Hal-hal tersebut merupakan sumber gagasan untuk menulis. Coba perhatikan dan rasakan sejuknya udara pagi hari, indahnya kicauan burung, perhatikan pula aktivitas pagi yang mulai menggeliat. Catatlah apa yang dilihat dan rasakan, kelak bisa saja hal-hal tersebut menjadi benih ide tulisan. Orang-orang, binatang, alam bisa menjadi sumber inspirasi untuk karya fiksi dengan latihan dan sedikit imajinasi. Hal-hal sekitar yang harus diperhatikan tentunya bukan hanya hal-hal yang baik dan indah saja, tetapi juga hal-hal yang bisa jadi kurang menyenangkan, seperti ketidakadilan, teman yang tukang usil, masalah banjir, sampah, dan sebagainya.

3.   Melihat ke dalam hidup pribadi.

Sumber gagasan lainnya adalah hidup kita (Anda) sendiri. Kita dapat memulai menulis dengan menceritakan dirinya sendiri. Mulai dari hal yang remeh-temeh, seperti menceritakan mengenai kelahiran, arti nama, mengapa orang tua memberikan nama tersebut, dan lain sebagainya. Bisa juga menulis mengenai pengalaman pribadi yang menyedihkan, menyenangkan, bahkan memalukan. Hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita dapat menjadi sumber ide yang tidak ada habisnya. Misalnya seorang guru bisa menulis mengenai pengalaman mengajar, pengalaman dengan siswa, mengapa ia menjadi guru, dan sebagainya.

Dari uraian tersebut terlihat bahwa ide bisa didatangkan, bahkan ada yang sesungguhnya sudah lekat dengan diri kita sendiri. Lantas tunggu apa lagi? Jemputlah ide Anda dan mulailah menulis. Salam.##

Pembelajaran Menulis Puisi

TEKNIK RANGSANG GAMBAR PERISTIWA:
SEBUAH UPAYA ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI

tulisan ini menjadi pemenang ke-1 pada Lomba Menulis Guru Kreatif 2012
dalam rangka Dies Natalis Universitas Airlangga, Surabaya
 

bloodpenSalah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai peserta didik adalah menulis. Kegiatan menulis merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan proses kegiatan belajar mengajar bidang studi bahasa dan sastra Indonesia. Dengan menulis, peserta didik diharapkan dapat menuangkan ide, pikiran, dan perasaannya ke dalam bahasa tulis, baik yang berkaitan dengan kebahasaan maupun kesastraan.

         Menulis puisi merupakan bagian dari pembelajaran menulis yang diajarkan di sekolah, baik pada tingkat pendidikan dasar maupun menengah. Yang menjadi permasalahan di lapangan, pembelajaran menulis puisi seringkali menjadi hal yang menakutkan bagi peserta didik. Dan bukan rahasia lagi bila masih banyak peserta didik kurang suka pada puisi, bahkan sudah apriori ketika mendengar kata ’puisi’. Peserta didik menganggap bahwa puisi merupakan sesuatu yang sulit dipelajari. Hal ini berdampak pula pada kegiatan menulis puisi yang dianggap sebagai kegiatan yang sulit, membosankan, serta menyita banyak waktu. Pada saat pembelajaran menulis puisi peserta didik merasa dihadapkan pada sebuah pekerjaan berat yang sering menimbulkan rasa was-was, bimbang, ragu karena merasa tidak berbakat. Peserta didik seringkali membutuhkan waktu lama ketika ditugasi untuk menulis sebuah puisi. Ini terjadi karena kemampuan peserta didik dalam menggali imajinasi masih sangat terbatas.

         Bila kondisi demikian dibiarkan, maka pembelajaran menulis puisi tidak akan mencapai tujuan. Untuk mengatasi kondisi tersebut diperlukan cara-cara kreatif dan variatif untuk dapat menggugah gairah peserta didik dalam kegiatan menulis puisi ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan guru agar peserta didik mudah menulis puisi adalah dengan teknik rangsang gambar peristiwa. Melalui gambar peristiwa yang disajikan peserta didik dirangsang untuk menggali imajinasinya dan kemudian menuangkannya dalam bentuk puisi.

           Teknik rangsang gambar peristiwa ini memanfaatkan gambar-gambar peristiwa dari berbagai media, baik cetak maupun virtual. Peristiwa-peristiwa yang tersiar di berbagai media tentu ada yang mampu mengusik perasaan peserta didik. Misalnya, perang di Afghanistan, bencana tsunami, banjir dan tanah longsor, kerusuhan demonstrasi, dan sebagainya. Dengan menyajikan gambar-gambar peristiwa tersebut, imajinasi peserta didik dirangsang dan dicoba untuk dibangkitkan.

            Penggunaan teknik rangsang gambar peristiwa ini karena gambar-gambar tersebut mudah ditemukan dan mudah diamati, sehingga peserta didik dapat dengan mudah mendata objek yang terdapat dalam gambar yang akan dijadikan bahan penulisan puisi. Selain itu, peristiwa-peristiwa yang disajikan dalam bentuk gambar tersebut berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari sehingga peserta didik akan mudah menentukan tema yang akan dijadikan dasar penulisan puisi. Di samping itu, gambar-gambar tersebut sangat menarik apalagi jika peristiwa yang terdapat dalam gambar tersebut merupakan peristiwa yang sedang hangat dibicarakan sehingga peserta didik akan mudah mengubah fakta yang terdapat dalam gambar peristiwa menjadi sebuah puisi.

         Gambar-gambar yang dipilih tentu saja diupayakan gambar-gambar yang ’hidup’  artinya yang mampu memberikan kesan atau pesan tertentu ketika diamati. Meskipun gambar tidak memiliki daya gerak, daya bau, daya raba, serta daya dengar, tetapi dengan imajinasi yang maksimal akan mampu menggali ruh dari gambar yang diberikan. Melalui gambar-gambar peristiwa yang disajikan, peserta didik dapat mengamati peristiwa apa yang terjadi, di mana terjadinya, kapan, siapa saja yang terlibat, dan sebagainya. Selain itu, peserta didik juga dapat merenungkan mengapa peristiwa itu terjadi, bagaimana seandainya mereka terlibat dalam peristiwa itu, atau bahkan memberikan pernyataan yang berupa solusi, imbauan, dan harapan atas peristiwa itu.

selengkapnya dapat dibaca di sini

Mengasah Kemampuan Menulis melalui Lomba

Bagi orang yang tak terbiasa melakukannya, menulis adalah kegiatan yang sangat sulit. Apalagi bagi orang yang belum pernah melakukannya. Pasti seseorang akan lebih suka ngobrol, chatting, mendengarkan musik favorit, bermain game, atau nonton televisi, daripada harus menulis. Padahal, kita semua tahu bahwa menulis merupakan aktivitas kreatif yang memiliki banyak manfaat. Menulis bisa menjadi sarana berbagi pengalaman dan berbagi pengetahuan.  Dari tulisan, orang juga dapat hidup abadi melalui karyanya.  Sebagaimana pernah dikatakan penulis besar kita, Pramoedya Ananta Toer, bahwa Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah. Sebut saja Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, Hamka, dan Muhammad Hatta sampai sekarang pun tetap abadi melalui hasil tulisan mereka.

Menulis sesungguhnya merupakan aktivitas yang sangat sederhana, tidak memerlukan banyak biaya. Tinggal duduk memegang kertas dan pena atau duduk di depan komputer atau laptop. Di samping itu, setiap orang sebetulnya bisa menulis, asal mau memulai. Hal ini karena menulis merupakan sebuah keterampilan, bukan bakat yang dibawa sejak lahir. Menulis dapat dipelajari dan dilatihkan. Hanya saja, untuk memulai kegiatan menulis memang tidak gampang, meski sebenarnya juga tidak sulit. Semakin sering seseorang belajar dan berlatih, maka bisa dipastikan akan semakin terampil. Jadi, setiap orang bisa menulis asalkan mau memulainya. Ya, memulai menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat menjadi sebuah tulisan. Tentu saja modal banyak membaca tak bisa diabaikan sebab membaca merupakan bahan bakar untuk menulis.

Baca lebih lanjut